5 December 2020
  • 5 December 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Gunung Merapi : Kondisinya Semakin Mengkhawatirkan, 33 Kali Gempa Vulkanik dan 45 Kali Guguran

Gunung Merapi : Kondisinya Semakin Mengkhawatirkan, 33 Kali Gempa Vulkanik dan 45 Kali Guguran

By on 12 November 2020 0 81 Views

Aktivitas Gunung Merapi Yogyakarta meningkat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.294 warga telah dievakuasi ke empat kabupaten. (Kolase)

ROC — Akhir-akhir ini Gunung Merapi menunjukkan tanda-tanda kembali aktif setelah sekian lama tertidur. Erupsi yang dikeluarkan Gunung Merapi mulai merambah ke sejumlah wilayah di sekitar Merapi yang masuk ke dalam zona berbahaya.

Selain itu Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyebut aktivitas seismik dan deformasi di tubuh GUnung Merapi kian hari semakin meningkat, sejak status gunung api tersebut naik menjadi Siaga pada 5 November lalu.

“Aktivitas seismikyang terpantau saat ini sudah melampaui aktivitas menjelang munculnya kubah lava pada erupsi 2006, tapi masih lebih rendah dibanding aktivitas seismik saat erupsi 2010,” ungkap Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, dilansir dari ANTARA News, Rabu (11/11).

Adapun untuk deformasi atau penggembungan tubuh gunung terjadi sekitar 12 centimeter per hari. Penggembungan ini mulai terdeteksi sejak 20 Oktober 2020 yang terpantau di sektor barat laut.

Berdasarkan catatan dari BPPTKG Yogyakarta, selama tiga hari menjelang munculnya kubah lava pada erupsi 2006, tercatat tidak ada gempa vulkanik dalam, namun terjadi gempa vulkanik dangkal sebanyak enam kali dengan 20 kali guguran.

Sedangkan saat menjelang erupsi pertama pada 2010 lalu, terjadi 120 kali gempa vulkanik dangkal, tujuh kali gempa vulkanik dalam dan 277 kali guguran.

Sementara pada kondisi Gunung Merapi saat ini, Hanik mengatakan tidak ada gempa vulkanik dalam, namun terjadi 33 kali gempa vulkanik dangkal dengan 45 kali guguran.

BPPTKG akhirnya menyusun dua skenario erupsi, karena indikator yang ditunjukkan saat ini sudah melampaui kondisi siaga pada 2006, yaitu sekenario terjadi ekstrusi magma dengan cepat dan skenario erupsi eksplosif atau ledakan.

Hanik menyampaikan dengan aktivitas seismik yang ditunjukkan Gunung Merapi ini sudah melampaui kondisi yang terukur saat erupsi 2006, maka jenis erupsi yang terjadi diprediksi bersifat eksplosif.

Namun Hanik menerangkan, jika terjadi erupsi eksplosif maka tidak akan sebesar erupsi 2010, karena tidak terjadi tekanan berlebihan di dapur magma, migrasi magma pun berjalan pelan, peningkatan kegempaan dan erupsi menyerupai erupsi pada 2006 yang bersifat efusif dan banyak terjadi hembusan pelepasan gas.

Berdasarkan pusat terjadinya gempa, maka saat itu magma berada dengan jarak sekitar 1,5 kilometer dari puncak.

Pergerakan magma tersebut juga menjadi faktor penyebab terjadinya guguran material sisa letusan yang berada di puncak Gunung Merapi.

Diketahui, hingga saat ini guguran lebih banyak terjadi di sisi barat dan barat laut.

“Namun bukan berarti letusan akan mengarah ke arah barat dan barat laut. Pada 2006 saja terjadi perubahan morfologi di sisi barat tetapi awan panas meluncur ke selatan,” kata Hanik.

Pada kenyataannya prediksi ini masih bisa berubah, maka dari itu sedini mungkin masyarakat di sekitar lereng gunung segera diungsikan.

(red)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *