26 October 2020
  • 26 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • “Dosa Jokowi” dalam Pertikaian Erick Thohir dan Adian Napitupulu

“Dosa Jokowi” dalam Pertikaian Erick Thohir dan Adian Napitupulu

By on 20 July 2020 0 160 Views

Gbr.dok : Kompasiana

ROC — Tidak elok dan tidak pantas, inilah yang saya tangkap dari pertikaian antara Menteri BUMN Erick Thohir dengan politisi PDIPN yang juga anggota DPR Adian Napitupulu. Semua berawal dari sikap Erick Thohir yang dinilai tidak konsisten dan amburadul tentang pemilihan komisaris dari kalangan milenial dan pensiunan.

Dalam hal ini Adian Napitupulu mempermasalahkan kenapa kementerian BUMN tidak memprioritaskan dari unsur partai koalisi pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Kecurigaan Adian Napitupulu muncul bahwa langkah Erick Thohir terkesan politis.Apalagi sebelumnya kaum milenial pernah menggaungkan Erick Thohir for president.

Apalagi menurut Adian Napitupulu, kalau memang pemilihan komisaris BUMN berpedoman pada kompetensi, masih banyak orang dalam koalisi pemerintahan Jokowi yang layak untuk dicalonkan.Kekecewaan Adian Napitupulu ini mirip kekecewaan partai Nasdem saat Jokowi menunjuk Prabowo menjadi menteri pertahanan.

Padahal kalau suatu hari presiden dan wakil presiden tidak bisa melanjutkan jabatannya, karena meninggal dunia misalnya, menteri pertahanan adalah salah satu menteri yang mengambil alih pemerintahan bersama menteri dalam negeri dan menteri luar negeri. Dalam hal ini Nasdem merasa, kok mereka yang berdarah-darah, tapi malah lawan politik mereka yang mendapat jatah kursi strategis dari Jokowi.

Langkah Jokowi memang tak sepenuhnya salah, karena dengan diangkatnya Prabowo, masyarakat yang tadinya terpecah belah dapat bersatu kembali. Walaupun banyak juga pihak yang kecewa, dan tetap berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah.

Kembali pada kasus di atas. Sikap Erick Thohir yang otoriter dinilai dapat memecah belah koalisi Jokowi. Apalagi tahun 2024 akan diadakan pemilihan presiden.Nasdem sudah menunjukkan gelagatnya dengan mendekati Anies Baswedan. Banyak pihak menyayangkan sikap Erick Thohir karena tidak mau menemui Adian Napitupulu.

Adian Napitupulu memang bukan orang biasa dalam pemerintahan Jokowi. Beberapa kali dia ditawari kursi menteri namun menolak karena lebih senang menjadi anggota DPR. Mungkin karena dia punya hobi berdebat. Sebagai menteri hal itu tidak dapat dilakukannya.

Memang sangat beralasan protes Adian Napitupulu. Sebab sebelumnya Jokowi memang berjanji akan mengangkat aktivis 98 yang berkompeten untuk menjadi komisaris BUMN dan Duta Besar. Bahkan Adian Napitupulu sudah menyerahkan nama-nama tersebut, namun sampai hari ini belum ada kejelasan. Adian Napitupulu sendiri saat diundang ke istana, disarankan oleh presiden Jokowi untuk meminta penjelasan dari Erick Thohir.

Sebenarnya sudah ada belasan teman Adian Napitupulu yang sudah duduk di kursi komisaris BUMN. Hanya saja, yang namanya janji politik memang harus ditepati. Saya pribadi pernah mengkritik gaya Erick Thohir dalam memimpin kementerian BUMN. Saya heran kok kerjanya lebih banyak muncul di media dan menggonta ganti komisaris.

Setiap penggantian yang dilakukannya tentu diliput media, dan ujung-ujungnya hanya menambah pemberitaan tentang dirinya. Apakah semua demi popularitas belaka? Begini loh ya.Komisaris itu hanya mengawasi, jabatan yang krusial itu direktur utama. Makanya Ahok tidak dapat berbuat banyak di Pertamina, karena yang mengambil keputusan ya direktur.

Lagi pula begini, kalau dengan mengganti komisaris dianggap prestasi, lah itukan komisaris hasil pemerintahan Jokowi juga di periode sebelumnya. Jadi apakah maksudnya pemerintahan Jokowi ini kotor sehingga dilakukan pembersihan di tubuh BUMN yang sekarang? Kan aneh. Kecuali sebelumnya presidennya beda, wajarlah bersih-bersih.Tapi ini kan presidennya masih sama.

Harusnya yang dilakukan Erick Thohir adalah memajukan bisnis BUMN. Misalnya PT Pos Indonesia, bagaimana agar perusahaan BUMN yang satu ini bisa menggelilat lagi bisnisnya. Lalu Pertamina agar bisa bersaing di dunia. Jadi berhentilah membuat gebrakan yang populis demi pemberitaan sesaat belaka.

Sekarang ke Jokowi. Menurut saya ini memalukan. Harusnya Jokowi memanggil mereka berdua, agar menyelesaikan isu ini di belakang meja atau dibalik layar. Sekarang malah isu ini jadi konsumsi publik. Bahkan sempat viral agar diadakan debat terbuka antara Erick Thohir dan Adian Napitupulu. Kan jadi tidak elok. Apa bedanya dengan kasus saat Rizal Ramli diangkat jadi Menko Maritim lalu mengajak debat terbuka wakil presiden saat itu yaitu Jusuf Kalla.

Maka dalam hal ini Jokowi tidak boleh diam. Agar Erick Thohir juga bisa leluasa dalam bekerja. Apakah permintaan Adian Napitupulu harus dieksekusi atau tidak. Jangan nanti setelah Erick Thohir membuat pilihannya, malah pilihan tersebut diganti di tengah jalan oleh rekomendasi Adian yang disetujui Presiden Jokowi.

Intinya, bagaimana caranya agar pemerintahan ini berwibawa.Harusnya pemerintah menunjukkan sikap yang seirama agar rakyat tetap mendukung dan percaya.Sekian.

(IG : Boris Toka Pelawi/Red)

Boris Toka Pelawi : Terimakasih untuk teman2 yang sudah membaca, vote dan berkomentar di artikel saya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *