19 February 2020
  • 19 February 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Direktur Namarin : Coronavirus Meluas, Perlukah Pelabuhan Ditutup ?

Direktur Namarin : Coronavirus Meluas, Perlukah Pelabuhan Ditutup ?

By on 12 February 2020 0 40 Views

Jakarta, ROC — Virus corona yang mulai merebak di kota Wuhan, China, sejak akhir 2019 hingga kini masih belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan segera berakhir. Yang ada malah penyebarannya semakin meluas melampui negeri tirai bambu itu. Sejumlah pemerintah negara di Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Filipina dan Singapura melaporkan bahwa pandemi tersebut telah pula menjangkiti wilayah mereka. Karenanya, lembaga kesehatan dunia, WHO, menetapkan status gawat darurat global terkait wabah tersebut.

Akibatnya, hampir seluruh sektor industri di China perlahan tapi pasti terpukul dan bergerak sempoyongan saat ini, akibat tenaga kerja yang menjalankannya terpaksa dikarantina agar penyebaran virus corona bisa ditekan dan jumlah manusia yang terdampak dapat dikurangi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, pada republikonline.com di Jakarta, Rabu (12/2).

“Pada gilirannya, sektor kemaritiman negeri itu, termasuk dunia sebetulnya, akan terkena imbasnya pula. Dilaporkan, perlambatan industri negeri panda karena virus tersebut telah memangkas pengiriman BBM ke China sebesar 3 juta barel per hari,” ungkapnya.

Menurutnya, yang lebih mengkhawatirkan bagi perusahaan pelayaran itu adalah tidak ada kejelasan bila mesin-mesin pabrik China kembali beroperasi. Hingga berita ini diturunkan, sektor industri China sudah dibuka kembali namun belum dalam kecepatan penuh. Bayang-bayang virus corona yang bergerak tak terbendung dengan jumlah korban yang sudah mendekati angka 1.000 orang masih terus menghantui.

“Tentu saja hal itu membuat pingsan operator tanker global yang selama ini mengangkut komoditas tersebut dari kilang-kilang minyak yang ada di Timur Tengah maupun Iran menuju kota-kota industri di seluruh China,” tambahnya.

Siswanto Rusdi berpendapat, sektor pelayaran peti kemas juga setali tiga uang nasibnya. Sebuah prediksi menyebutkan, sektor yang satu ini akan kehilangan pangsa sekitar 6 juta twenty foot equivalent unit (TEU) hingga semester pertama 2020 akibat pembatasan atau pembatalan pengiriman dari dan ke China. Ada satu hal yang menarik, tambahnya, kendati shipment ke China terus melorot namun tidak ada satu pun pelabuhan yang ditutup, termasuk di wilayah tempat awal mula menjangkitnya virus corona: Kota Wuhan.

“Apakah perlu pelabuhan di China ditutup? Organisasi maritim internasional, IMO, mengeluarkan himbauan agar pergerakan kapal tidak perlu dibatasi,” jelasnya.

Ini berarti, tuturnya, pelabuhan tetap harus dibuka agar bisa melayani kapal yang ingin bersandar di pelabuhan-pelabuhan di seantero China. Persoalannya, seperti yang sudah disebut di awal, sudah banyak pengapalan dari dan ke China dibatalkan, atau paling tidak, dialihkan. Jika tetap buka, pelabuhan-pelabuhan seperti Shanghai, Tianjin, dan lain-lain jelas beroperasi di bawah kapasitas terpasang yang dimiliki.

“Nilai kerugian perekonomian China akan makin bertambah karena pelabuhan yang underperfomed. Sekilas masalah ini hanya urusan China. Sejatinya, masalah ini juga masalah perekonomian dunia. Sehingga, barangkali ada baiknya mempertimbangkan penutupan pelabuhan di China hingga berakhirnya wabah corona, Entahlah,” pungkas Siswanto Rusdi.

(idj / idj)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *