23 April 2021
  • 23 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Dibanding presiden-presiden sebelumnya, ini Sosok Pemimpin Baru AS Joe Biden

Dibanding presiden-presiden sebelumnya, ini Sosok Pemimpin Baru AS Joe Biden

By on 21 January 2021 0 70 Views

ROC — Akurat atau tidak, Presiden AS terkadang disebut sebagai “pemimpin dunia bebas”, dan memang menjadi salah satu pemimpin dunia paling kuat di planet ini. Selama 232 tahun terakhir, sebagian besar presiden AS berkulit putih, berjenis kelamin pria, dan beragama Protestan.

Sekitar 31 presiden punya latar belakang militer, namun tren ini tidak berlanjut pada presiden-presiden beberapa tahun terakhir.

Sebagian besar presiden AS datang ke Gedung Putih sebagai veteran, termasuk di antaranya pernah bertugas bagi jajaran militer dan Garda Nasional. Beberapa presiden adalah jenderal militer terkemuka, termasuk George Washington, komandan Tentara Kontinental selama Perang Revolusi; Ulysses S. Grant, yang memimpin pasukan Union selama Perang Saudara; dan Dwight D. Eisenhower, yang memimpin Angkatan Darat AS selama Perang Dunia II. Setelah Perang Saudara, sejumlah veteran, semua yang berjuang untuk ‘the Union’ atau Amerika Serikat di awal pendiriannya, menjabat sebagai presiden, sementara Perang Dunia Pertama dan Kedua membawa gelombang presiden veteran lainnya. Namun, tren presiden veteran berakhir dalam beberapa dekade terakhir di mana sebagian besar presiden tidak pernah bertugas di angkatan bersenjata, termasuk Bill Clinton, Barack Obama, Donald Trump dan Joe Biden.

— 26 presiden pernah menjadi anggota Kongres. Biden pernah menjadi anggota Senat selama 36 tahun.

Menjadi anggota Kongres adalah profesi yang populer bagi calon presiden sejak zaman James Madison dan di era modern. Lebih dari separuh presiden AS tercatat pernah menjadi anggota Kongres, baik di DPR, Senat, ataupun keduanya. Tercatat 17 senator telah menjadi presiden, termasuk Joe Biden. Namun hanya tiga senator yang pindah langsung dari Senat AS ke Gedung Putih: Warren G. Harding, John F. Kennedy, dan Barack Obama. Hanya satu anggota DPR AS yang tengah menjabat, James Garfield, yang pindah dari DPR ke Oval Office di Gedung Putih.

— Biden adalah presiden tertua ketika dilantik

Warga AS berdasarkan hukum dapat mencalonkan diri sebagai presiden pada usia 35 tahun. Namun presiden AS termuda – yang sering diagung-agungkan karena usia mudanya dan karismanya, selain pencapaian politik mereka – menjabat di awal usia 40-an. Presiden termuda AS, “Teddy” Roosevelt menjadi presiden pada usia 42. John F. Kennedy, yang masuk ke Gedung Putih pada usia 43, dipandang sebagai putra mahkota dari keluarga politik yang glamor. Presiden yang lebih tua usianya, seperti Dwight Eisenhower dan Ronald Reagan, dianggap berperan seperti sesepuh. Donald Trump menjadi presiden tertua yang menjabat pada tahun 2017 ketika ia berusia 70 tahun, gelar yang sekarang diambil alih oleh Joe Biden yang memasuki Gedung Putih pada usia 78. Menjadi pemimpin “dunia bebas” dapat membuat seseorang cepat menua. Beberapa presiden yang berambut hitam ketika mulai menjabat, mengakhiri masa jabatan dengan rambut beruban.

— Semua presiden AS beragama Kristen (96% Protestan, 4% Katolik), Biden akan jadi presiden AS kedua yang beragama Katolik.

Konstitusi AS melarang persyaratan agama sebagai syarat bekerja bagi pemegang jabatan publik, namun seluruh Presiden AS sejauh ini mengaku sebagai seorang Kristen, dua di antaranya adalah Kristen Protestan. Joe Biden menjadi presiden Katolik kedua setelah John F. Kennedy. Tidak ada presiden AS sebelumnya yang beragama Islam atau Yahudi, dan tidak ada satupun yang ateis. Meski demikian, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, dan William Howard Taft diduga agnostik atau ateis. Mantan kandidat presiden Bernie Sanders, yang kalah dalam nominasi presiden Partai Demokrat tahun 2020 oleh Biden, bisa menjadi presiden Yahudi pertama kalau saja dia menang.

— 15 presiden awalnya wakil presiden.

Dari 15 wakil presiden yang lanjut menjadi presiden, delapan di antaranya adalah karena presidennya meninggal dunia. Sementara satu di antaranya, yakni Gerald Ford, naik ke kursi kepresidenan setelah Richard Nixon mengundurkan diri. Jabatan sebagai wakil presiden umumnya dinilai sebagai aset untuk menuju kursi kepresidenan Gedung Putih, namun beberapa wakil presiden justru gagal mendapatkan kesempatan ini, termasuk Al Gore, wakil presiden pada pemerintahan Bill Clinton, juga Walter Mondale, wakil presiden pada pemerintahan Jimmy Carter. Joe Biden, sebelumnya wakil presiden dari Obama, adalah wakil presiden AS ke-2 yang menjadi presiden setelah tidak lagi menjabat wapres selama satu periode kepresidenan. Sebelum Biden, Richard Nixon juga menjalani proses serupa, ia adalah wakil presiden dalam pemerintahan Dwight D, Eisenhower tahun 1953-1961. Namun Nixon baru memenangkan pemilihan presiden pada tahun 1968.

— Orang tinggi dapat perhatian, tapi orang pendek juga bisa memimpin.

Umumnya orang-orang dengan tinggi badan di atas rata-rata diyakini lebih bisa jadi pemimpin dan lebih kaya dibanding orang-orang pendek. Tiga presiden AS — George Washington, Thomas Jefferson, dan Abraham Lincoln — yang juga dinilai sebagai presiden AS yang paling penting, kebetulan termasuk presiden dengan tinggi badan di atas rata-rata. Presiden Lincoln misalnya memiliki tinggi 193 cm. Namun, beberapa presiden yang paling pendek juga memiliki peran yang sering dikenang sebagai bapak pendiri negara, termasuk di antaranya James Madison, presiden ke-4 AS, yang hanya memiliki tinggi 163 cm. John Adams, presiden ke-2 AS hanya memiliki tinggi 170 cm. Kebanyakan presiden-presiden AS akhir-akhir ini juga termasuk yang tertinggi seperti Donald Trump, Bill Clinton, dan George H.W. Bush.

— 33 presiden memiliki gelar sarjana, hanya sekitar seperempat yang tidak punya gelar sarjana.

Sebagian besar presiden AS, bahkan mereka yang menjabat di awal berdirinya negara Amerika, memiliki pendidikan lebih tinggi daripada masyarakat umum. Semuanya, kecuali 12 presiden, memiliki gelar sarjana, termasuk setiap presiden sejak tahun 1953. Sementara mereka yang tidak memiliki gelar, adalah yang minoritas, termasuk dua presiden AS yang paling dihormati – George Washington dan Abraham Lincoln. Washington memperoleh lisensi pengukur tanah dari College of William & Mary di Virginia, tapi tidak mendapatkan gelar sarjana, dan Lincoln tidak pernah kuliah.

Hanya satu presiden yang bergelar PhD – Woodrow Wilson – dan dia juga presiden Princeton University sebelum menjabat sebagai presiden AS. Beberapa presiden memiliki gelar sarjana hukum, termasuk beberapa presiden terakhir – Joe Biden, Barack Obama dan Bill Clinton. Banyak dari presiden di awal berdirinya Amerika yang juga mempelajari atau bekerja dalam bidang hukum, namun pada saat itu, hanya menjalani masa praktek dan tidak perlu meraih gelar pascasarjana hukum yang merupakan syarat untuk menjadi pengacara.

— 27 presiden pernah menjadi pengacara, 60 persen presiden pernah belajar atau bekerja dalam bidang hukum.

Menurut American Bar Association, 27 presiden pernah menjadi pengacara, termasuk Joe Biden. Asosiasi tersebut menyebutkan delapan presiden bahkan pernah menyampaikan argumentasi di hadapan Mahkamah Agung AS, baik sebelum atau sesudah masa kepresidenan mereka, yaitu John Quincy Adams, James Polk, Abraham Lincoln, Grover Cleveland, William Howard Taft, Benjamin Harrison dan Richard Nixon. Taft adalah satu-satunya presiden yang pernah menjabat di Mahkamah Agung, setelah masa kepresidenannya. Adams juga dicalonkan dan dikukuhkan sebagai salah satu Hakim Agung, tetapi Adams menolak posisi itu. Ia mengatakan “Saya … terlalu partisan untuk menjadi hakim.”

— 9 presiden berjenggot atau berkumis dalam masa kepresidennya. Kumis dan jenggot adalah tren di akhir abad ke-19.

Dari tahun 1861 hingga 1909, sebagian besar presiden memiliki jenggot atau kumis. Tren ini populer saat Amerika Serikat mengalami perubahan besar: Revolusi Industri, Perang Saudara, akhir perbudakan, dan perempuan mulai berperan di luar rumah. Sebagai hasilnya, busana pria mulai menekankan ‘kejantanan’. Rambut di wajah yang lebat adalah cara lain untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Abraham Lincoln, presiden berjenggot pertama, menumbuhkan kumisnya selama kampanye kepresidenannya pada tahun 1860, setelah seorang anak perempuan berusia 11 tahun menyarankannya. Anak perempuan itu mengatakan kepadanya bahwa garis keriput di wajahnya mungkin akan membuat calon pemilih tidak tertarik untuk mendukungnya. Rambut wajah mulai ditinggalkan di awal abad ke-20 bersamaan dengan munculnya kelas sosial profesional baru atau “kerah putih,’ di mana pria harus tampil rapi. Wajah yang dicukur bersih juga telah menjadi norma di dunia politik.

— Kampung halaman presiden

Negara yang menghasilkan paling banyak presiden adalah Virginia. Ketika Amerika baru berdiri, Virginia menghasilkan paling banyak presiden, empat dari lima presiden pertama berasal dari negara bagian tersebut. Tapi, sepanjang sejarah AS, New York menjadi negara bagian yang paling banyak menghasilkan presiden yaitu tujuh presiden, termasuk Donald Trump. Ohio menduduki tempat kedua, dengan enam presiden. Tidak semua negara bagian pernah menghasilkan presiden, hanya 19 negara bagian yang menjadi kampung halaman pemimpin tertinggi negara Amerika.

Meski ada banyak cara untuk menentukan negara bagian mana yang bisa dianggap kampung halaman seorang presiden, termasuk berdasarkan tempat lahir atau tempat tinggal terlama, di ilustrasi ini negara bagian asal seorang presiden ditentukan oleh negara bagian yang paling punya ikatan dengan presiden. Contohnya, negara bagian asal Biden adalah Delaware, negara bagian yang ia wakili di Senat AS selama 36 tahun, dan bukan Pennsylvania, negara bagian tempat ia lahir. (red/voa/ROC)

 

 

👉Terimakasih sudah membaca & membagikan link republik-online.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *