31 May 2020
  • 31 May 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Denny JA : Mudik Tak Dilarang, Indonesia Potensial Melompat Lima Besar Negara Paling Terpapar Covid-19

Denny JA : Mudik Tak Dilarang, Indonesia Potensial Melompat Lima Besar Negara Paling Terpapar Covid-19

By on 4 April 2020 0 100 Views

Foto: Konsultan Politik Denny JA (wikipedia)

Jakarta, ROC – Lima negara yang paling terpapar Virus Corona atau Covid-19 diketahui sebagai berikut, Amerika Serikat rangking pertama dengan 245.380 kasus, Spanyol dengan 117.710 kasus, Itali dengan 115.242 kasus, Jerman 85.263 kasus, dan Cina 81.620 kasus. Jika pemerintah tak melarang dengan keras mudik lebaran, besar kemungkinan Indonesia segera melejit masuk ke dalam lima besar negara yang paling terpapar Covid-19.

Hal tersebut ditegaskan Konsultan politik dan tokoh media sosial, Denny Januar Ali, di Jakarta, Sabtu (4/4).

“Hitung-hitungannya sangat sederhana. Tahun lalu, dari wilayah Jabotabek saja, jumlah yang masuk mencapai angka 14,9 juta penduduk. Angka ini membengkak jika ditambah penduduk kota besar lain, katakanlah kita tetap asumsikan mudik tahun 2020 di angka 14,9 juta untuk seluruh Indonesia. Di kampung halaman, mereka akan berinteraksi dalam kultur komunal. Mereka berjumpa keluarga besar, tetangga, sahabat,” jelas konsultan politik yang biasa disebut Denny JA.

Denny JA yang pernah meraih penghargaan sebagai konsultan politik di dunia pertama yang membantu memenangkan pemilihan presiden tiga kali berturut-turut, memperkirakan, jika rata-rata 1 orang yang mudik berinteraksi dengan 3 orang lainnya. Maka mudik menyebabkan interaksi sekitar 45 juta penduduk Indonesia.

Menurutnya, jika 1 persen saja dari jumlah populasi paska mudik itu terpapar Covid-19, artinya setelah mudik akan ada 450 ribu penduduk Indonesia menjadi korban. Angka itu bahkan sudah melampaui populasi Amerika Serikat yang kini berada di puncak negara paling terpapar virus corona.

“Lalu dikatakan, mereka yang mudik dihimbau karantina 14 hari. Atau yang pergi atau pulang mudik statusnya menjadi ODP, PDP. Tapi jumlah sebanyak 14,9 juta itu akan diisolasi dimana? Cukupkah infrastuktur kesehatan kita mengurus populasi sebanyak itu,” ungkapnya.

Dikatakan juga, kondisi sekarang saja banyak rumah sakit dan tenaga medis menjerit kekurangan fasilitas. Untuk situasi saat ini saja jumlah pasien yang mati di Indonesia lebih banyak dibandingkan yang sembuh.

“Termasuk bagaimana infrastuktur kesehatan kita siap dan mampu menampung lonjakan korban pasca mudik,” tambahnya.

Selain itu, Sekjen MUI juga sudah cukup sensitif dan berani menyatakan mereka yang mudik dari wilayah pandemik hukumnya haram. Bukan dalil agama yang akan ditekankan di sini. Namun sekjen MUI mencoba meminimalkan orang mudik menggunakan instrumen yang ia kuasai.

Kesimoulannya, yang paling efektif melakukan intervensi mudik tetap pemerintah pusat. Namun hingga saat ini, sikap Jokowi belum sekeras yang diharapkan.

“Juru bicara menyatakan, pemerintah membolehkan mudik dengan catatan. Lalu mensekneg meralat bahwa pemerintah menghimbau tidak perlu mudik. Yang tak mudik akan diberikan insentif ekonomi, tapi seberapa efektif himbauan itu? Padahal resiko mudik adalah Indonesia segera melompat menjadi lima besar negara paling terpapar Covid-19,” imbuhnya.

Jadi menurutnya, sebelum telat, dan agar pemerintah pusat tidak disalahkan, Jokowi agaknya perlu mempertimbangkan dua hal. Pertama, melarang mudik, yang diikuti kontrol ketat pihak keamanan di semua jalur mudik. Kedua, carikan solusi untuk mereka yang ingin pulang kampung karena kesulitan ekonomi untuk hidup di kota masa kini.

Sejauh ini, Jokowi sudah umumkan paket menyeluruh untuk Covid-19 dengan total 405 trilyun. Publik perlu diberi informasi rinci. Mereka yang tak bisa mudik, yang ekonominya merosot untuk kebutuhan dasar, bagaimana agar mereka mudah mendapatkan akses program itu.

Diketahui, Virus Corona di dunia semakin cepat menyebar karena momen hari raya imlek 25 Januari 2020. Di Indonesia, mudik dan lebaran mediumnya, bukan Imlek.

“Ini memang situasi tak normal. Mudik biasanya begitu hangat dan menggembirakan. Kini mudik justru menakutkan. Namun Jokowi berada dalam posisi menentukan bagaimana mudik 2020 akhirnya dikenang,” pungkasnya.(red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *