25 October 2020
  • 25 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Buka Shalat Jumat di Masjid Hagia Sophia, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Baca Alquran

Buka Shalat Jumat di Masjid Hagia Sophia, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Baca Alquran

By on 27 July 2020 0 130 Views

Ket.gbr: Detik-detik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membaca Alquran saat membuka shalat Jumat di masjid Hagia Sophia, Jumat (24/7/2020)/YouTube Ruptly

ROC — Beredar video detik-detik Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan membaca Al-qur’an saat membuka shalat Jumat di masjid Hagia Sophia.

Dari tayangan video yang beredar, Erdogan membacakan dua ayat dari Alquran sebagai penanda dibukanya Hagia Sophia sebagai masjid.

Erdogan membaca dua surat dalam Alquran yakni surat Al Fatihah dan surat Al Baqarah ayat 1-5.

Ini dilakukan Erdogan saat shalat Jumat perdana di Hagia Sophia dalam 86 tahun.

Mengenakan jas hitam serta berpeci putih, Erdogan terdengar fasih melantunkan ayat suci Alquran dengan suaranya yang merdu.

Seperti diketahui, Hagia Sophia sempat menjadi trending topic di media sosial pada Jumat 24 Juli 2020.

Hal itu berkaitan dengan digelarnya shalat Jumat perdana di Hagia Sophia setelah 86 tahun.

Salat Jumat ini digelar setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memutuskan mengubah Hagia Sophia sebagai masjid.

Pada 1934, di bawah kepemimpinan Presiden Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turki modern setelah jatuhnya Ottoman, masjid itu dijadikan museum.

Ornamen Kristiani ditutup tirai

Lukisan dan ornamen Kristiani di Hagia Sophia ditutup tirai dengan menggunakan mekanisme khusus selama waktu shalat, tetapi tetap akan dipajang.

Bangunan Hagia Sophia didirikan pada abad keenam sebagai katedral namun dijadikan masjid pada 1453 ketika Ottoman, biasa disebut juga dengan Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah Mehmed II atau Sultan Muhammad Al Fatih, menaklukkan Konstantinopel yang kemudian berganti nama menjadi Istanbul.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengundang Paus Fransikus untuk menghadiri pembukaan masjid, lapor kantor berita Anadolu.

Namun sejauh ini belum ada laporan bagaimana tanggapan Paus.

Tanggal 12 Juli lalu, Paus mengatakan dirinya  “sangat sedih” atas keputusan Turki menjadikan Hagia Sophia kembali menjadi masjid.

Paus sendiri mengunjungi Hagia Sophia dalam kunjungan ke Turki pada 2014.

Shalat Jumat pertama akan dipimpin oleh Ali Erba, Ketua Direktur Keagamaan, lapor harian Turki Hürriyet.

Hürriyet melaporkan, mosaik dan lukisan Kristiani ditutup tirai selama shalat Jumat dan waktu shalat lain.

“Mekanisme tirai yang digunakan mirip dengan yang dipakai dalam industri film,” kata harian itu.

“Tidak ada satu pun paku yang akan digores di struktur beton itu,” tambah Hürriyet.

Karpet yang akan dipakai untuk salat Jumat diproduksi di Provinsi Manisa, salah satu pabrik karpet pertama di Turki, kata surat kabar itu.

Terbuat dari bulu domba 100 persen, karpet hijau yang dipasang dengan motif Ottoman abad ke-17.

Bagi kelompok Islamis Turki, Hagia Sophia yang kembali dijadikan masjid menandai mimpi lama mewujudkan kembali simbol kejayaan Ottoman.

Namun bagi pihak lain, perubahan ini dianggap kemunduran untuk salah satu bangunan dengan arsitek terindah di dunia.

Dalam pidato mingguan tanggal 12 Juli lalu, Paus Fransiskus mengatakan ia “sangat sedih.”

Namun bagi Yunus Genc, shalat di Hagia Sophia pada Jumat (24/7/2020) tersebut, menandai kemenangan dalam upaya puluhan tahun oleh kelompok Islamis seperti organisasi yang dia pimpin, untuk kembali menjadikan gedung kuno ini menjadi masjid.

Organisasi Genc, Anatolian Youth Association, sebelumnya melakukan berbagai protes dan menyelenggarakan salat di luar Hagia Sophia, sementara kelompok lain melakukan upaya legal untuk menjadikan museum sebagai masjid.

“Sultan Mehmed II membeli masjid pakai uangnya sendiri”.

Presiden Erdogan pada 10 Juli lalu menetapkan bangunan yang menjadi katedral selama 900 tahun itu sebagai masjid, setelah pengadilan membatalkan status bangunan ikonik yang ditetapkan UNESCO sebagai peninggalan bersejarah.

“Kami memperjuangkan ini selama bertahun-tahun,” kata Genc di depan masjid Kamis (23/7/2020).

Kubah dan menara Hagia Sophia menghias langit Istanbul selama satu abad terakhir.

“Hagia Sophia adalah simbol dan kami, seperti Muslim lain, ingin dibuka sebagai masjid… Saat Sultan Mehmed, sang penakluk datang ke Istanbul, ia membeli Hagia Sophia dengan uangnya sendiri sebagai simbol penaklukan dan ingin dijadikan masjid.”

Kelompok yang dipimpin Genc adalah gerakan yang dibentuk oleh perdana menteri pertama Islamis Turki, Necmettin Erbakan, yang partainya yaitu Partai AK memimpin Turki di bawah kepemimpinan Erdogan selama 17 tahun.

Selama kepemimpinannya, Erdogan membentuk ulang Turki modern yang didirikan tokoh sekuler negara itu, Mustafa Kemal Ataturk, dengan mencabut larangan memakai jilbab di depan umum, meningkatkan pendidikan keagamaan.

Di tengah kekacauan dan pemberontakan di Timur Tengah pada 2011, Erdogan juga berupaya mengangkat posisi Turki sebagai kekuatan regional dan memimpin kelompok Muslim Sunni.

“Menetapkan Hagia Sophia sebagai masjid adalah pertanda ke arah “mencapai pembebasan” masjid Al Aqsa di Yerusalem,” kata Erdogan bulan ini.

Erdogan mendorong langkah mengubah Hagia Sophia menjadi masjid sebelum pemilihan daerah tahun lalu, langkah yang menyebabkan pukulan bagi Partai AK.

Para pejabat mengatakan langkah itu memenuhi keinginan mendalam masyarakat di negara itu.

“Keputusan menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid adalah tuntutan lama mayoritas rakyat Turki,” kata juru bicara presiden Ibrahim Kalin.

Ia mengatakan, di bawah kepemimpinan Erdogan masjid dan sinagog untuk masyarakat minoritas Kristen dan Yahudi Turki juga dibangun atau direnovasi. (Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *