2 July 2020
  • 2 July 2020
Breaking News

Bertahan di Wuhan Saling Menguatkan

By on 29 January 2020 0 153 Views

“Kok bombastis begini berita di luar,” kata Nugraha Krisdyanta geleng-geleng baca informasi media sosial tentang kondisi Wuhan, China. Kaget membaca seliweran hoaks tentang wabah virus corona.

Sebagai warga negara Indonesia sedang berkuliah, dirinya justru merasa Wuhan dalam keadaan cukup kondusif. Tidak sepenuhnya menjadi kota mati akibat terisolasi. Meski harus diakui memang semakin sepi. Apalagi hampir sepekan akses transportasi menuju dan dari ke sana ditutup pemerintah China.

Kebijakan itu dilakukan lantaran Wuhan dianggap sebagai pusat beredarnya virus corona. Sekaligus menekan penyebaran virus. Tetapi, faktor libur musim dingin dan Imlek menjadi faktor paling memengaruhi.

Wuhan memang dikenal sebagai kota pelajar. Lebih kurang ratusan perguruan tinggi berdiri di sana. Hampir seluruh mahasiswa sedang berlibur ketika awal Januari ini desas-desus virus corona muncul. Hanya sebagian memilih untuk tetap bertahan di Wuhan. Meski sepi. Nugraha menolak bila Wuhan dicap sebagai kota mati.

“Saya masih bisa keluar. Dengan beberapa teman tadi kami berbelanja. Masih ada toko yang buka, walau memang jalan begitu sepi,” kata Nugraha kepada merdeka.com, Selasa sore kemarin.

Selama ini Nugraha berkuliah di Central China Normal University. Mengambil jurusan Bahasa Inggris. Berada Wuhan bagian Provinsi Hubei, China, libur musim dingin ini dia tidak kembali ke Indonesia. Nugraha tentu tidak sendiri. Banyak mahasiswa Indonesia juga memilih tetap di Wuhan dengan berbagai macam alasan.

Asrama kampus menjadi tempat tinggal Nugraha selama di Wuhan. Selama wabah virus corona menyerang, pihak kampus sudah memberi imbauan menjaga kebersihan dan kesehatan. Apalagi sebagian yang memilih tinggal di asrama merupakan mahasiswa internasional. Tentu menjadi penting untuk memastikan kondisi mereka dalam keadaan sehat.

Wilayah Wuhan dideteksi menjadi yang pertama kali muncul virus corona. Tercatat 4.000 lebih warga terinfeksi virus corona di China. Dikabarkan bahkan sudah 106 orang meninggak akibat terinveksi virus itu.

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mengatakan virus corona Wuhan bisa menular melalui kontak dengan penderita. Mode penularan utama dari virus corona adalah ‘perpindahan dari jarak dekat’ itu artinya virus bisa menulari seseorang jika orang itu dekat dengan penderita yang sedang bersin atau batuk.

Nugraha dan mahasiswa lain masih bisa berjalan keluar dan berinteraksi dengan warga sekitar. Tidak ada larangan untuk itu. Tetapi, ada kewajiban harus mereka lakukan. Setiap hari harus melaporkan kondisi suhu tubuh kepada kampus. Bila dirasa keadaan badan mulai naik maka akan mendapat tindakan awal.

Biasanya mahasiswa yang sakit akan mendapat penanganan di rumah sakit milik kampus. Bila dirasa ada indikasi terkait virus corona maka segera mendapat tindakan medis di rumah sakit besar.

“Sejauh ini tidak ada dari kampus terkena penyakit itu. Karena kami diminta untuk memakai masker bila sedang keluar, dan menjaga kebersihan kamar kami,” ucap dia.

Dapat Bantuan Pemerintah

Suasana Imlek tahun ini dirasakan berbeda bagi pria asal Yogyakarta tersebut. Biasanya di Wuhan, pihak kampus menggelar acara makan bersama. Sayangnya, itu ditiadakan sementara.

Mereka hanya datang dan kemudian tidak menggelar makan siang bersama. Padahal itu momen paling seru tiap tahun untuk bertemu dengan mahasiswa internasinal lainnya.

Walau terkurung dalam kota yang terindikasi awal ditemukan virus corona, Nugraha tidak pernah pusing untuk mencukupi kebutuhan. Setiap hari KBRI mengirim duit 40 Yuan kepada pelajar dan WNI selama berada di Wuhan.

Duit sebesar itu dirasa cukup untuk memenuhi perut dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. “Jangan salah, duit sebesar itu kami bisa cukup makan enak di Wuhan,” kata Nugraha sambi tertawa.

Kementerian Luar Negeri RI, KBRI Beijing dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di China (PPIT) telah membangun jalur komunikasi untuk berkomunikasi dan memonitor keadaan WNI dan memberikan bantuan yang diperlukan. KBRI Beijing bahkan terus mengupayakan bantuan logistik bagi WNI yang berada di daerah karantina serta melakukan koordinasi dengan otoritas setempat.

Adapun WNI yang tinggal di daerah karantina di China sebanyak 243 orang. Dengan mayoritas adalah mahasiswa, tersebar di Wuhan, Xianing, Huangshi, Jingzhou, Xianyang, Enshi, dan Shiyan.

Pemerintah Indonesia juga mengimbau bagi WNI berada di dalam negeri agar mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke China. Sekaligus diminta bijak dalam menyaring dan menyikapi informasi yang beredar terkait virus corona.

Harus diakui keluarga panik mendengar kabar Wuhan menjadi sarang virus corona. Bapak dua anak ini, mengaku hampir setiap hari menghubungi istri dana anaknya untuk memberi kabar bahwa dirinya dalam keadaan sehat.

Komunikasi terus dilakukan agar tidak menjadi kepanikan besar. Selain dengan istri, Nugraha dan para pelajar asal Indonesia di Wuhan juga terus saling menguatkan. Mereka banyak mengisi pembicaraan di grup WeChat dengan candaan dan kalimat-kalimat penyemangat. Mereka terkadang juga berbagi uang melalui aplikasi itu.

“Kami terus saling menguatkan di sini sesama pelajar Indonesia. Kami juga terus berkomunikasi dengan keluarga. Mereka juga penyemangat buat kita selama di Wuhan,” ungkap Nugraha menceritakan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *