21 April 2021
  • 21 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Beijing Perkenalkan Undang-undang Baru, ini Pesan Keras Amerika

Beijing Perkenalkan Undang-undang Baru, ini Pesan Keras Amerika

By on 22 February 2021 0 57 Views

ROC — Pemerintah AS telah mengeluarkan kata-kata tegas sebagai tanggapan atas undang-undang baru yang diperkenalkan oleh Beijing. Undang-undang tersebut mengizinkan penjaga pantai untuk menembak kapal asing di Laut China Selatan.

Melansir Express.co.uk, Departemen Luar Negeri Amerika mengatakan, pihaknya khawatir undang-undang tersebut dapat digunakan untuk mengintimidasi tetangga maritim RRT.

Bulan lalu, China mengesahkan Undang-undang Penjaga Pantai yang memberdayakan pasukan untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan, termasuk penggunaan senjata ketika kedaulatan nasional, hak kedaulatan, dan yurisdiksi dilanggar secara ilegal oleh organisasi atau individu asing di laut.

China telah mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai miliknya yang telah memicu sengketa teritorial.

Negara Adidaya Timur itu memiliki sengketa kedaulatan maritim dengan Jepang di Laut China Timur dan dengan beberapa negara Asia Tenggara di Laut China Selatan.

“AS bergabung dengan Filipina, Vietnam, Indonesia, Jepang, dan negara-negara lain dalam menyatakan keprihatinannya dengan undang-undang penjaga pantai yang baru-baru ini diberlakukan China,” jelas Ned Price, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Jumat (19/2).

Dia menambahkan, “Mengizinkan penjaga pantai untuk menghancurkan struktur ekonomi negara lain dan menggunakan kekuatan dalam membela klaim maritim China di wilayah yang disengketakan, sangat menyiratkan bahwa undang-undang ini dapat digunakan untuk mengintimidasi tetangga maritim RRT.”

Di sisi lain, para analis telah memperingatkan kritik dari Amerika menyoroti bagaimana ketegangan AS-China tidak menunjukkan tanda-tanda membaik sejak Presiden Joe Biden menjabat.

Bulan lalu, AS mengeluarkan peringatan kepada Beijing untuk berhenti mengintimidasi Taiwan setelah pesawat tempur China terbang ke zona pertahanan udara pulau itu selama beberapa hari berturut-turut.

Pasukan China juga mensimulasikan serangan terhadap kapal induk AS di dekatnya.

China mengklaim kedaulatan atas tetangganya, Taiwan, meskipun kedua negara telah diperintah secara terpisah selama lebih dari tujuh dekade.

Beijing mengklaim kepemilikan di bawah kebijakan “Satu China” yang menuntut hanya ada satu negara berdaulat dengan nama China.

Pada bulan Januari, China mengeluarkan peringatan keras kepada Taiwan bahwa “kemerdekaan berarti perang”.

Juru bicara Kementerian Pertahanan China Wu Qian mengatakan pada jumpa pers bahwa Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari China.

“Kegiatan militer yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Rakyat China di Selat Taiwan adalah tindakan yang diperlukan untuk mengatasi situasi keamanan saat ini di Selat Taiwan dan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional,” kata Wu.

“Kami memperingatkan elemen kemerdekaan Taiwan: mereka yang bermain dengan api akan membakar diri mereka sendiri, dan kemerdekaan Taiwan berarti perang,” tambahnya.

Toshimitsu Motegi, Menteri Luar Negeri Jepang, juga mengatakan Tokyo sangat prihatin tentang undang-undang baru Beijing karena kapal penjaga pantai China melakukan serangan harian ke Senkaku di Laut China Timur.

Komandan Takahiro Okushima, kepala penjaga pantai Jepang, mengatakan dia tidak akan mengesampingkan penggunaan senjata di bawah kekuasaan kepolisiannya.

“Dengan perasaan tegang, kami akan mempersiapkan yang terbaik yang kami bisa,” jelas Motegi.

Alessio Patalano, pakar perang Asia Timur dan penulis Postwar Japan as a Seapower, sebelumnya mengatakan kepada Express.co.uk bahwa ancaman China harus ditanggapi dengan serius.

“Saya yakin Presiden Xi tidak memberikan bukti yang menunjukkan bahwa dia tidak serius dalam proposisinya. Saya juga percaya bahwa dengan 2049 sebagai tahun yang signifikan dalam sejarah Republik Rakyat Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok,” kata Patalano.

Joe Biden dapat peringatan, perang di Laut China Selatan bisa terjadi tahun ini

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden telah mendapatkan peringatan dari panel ahli kebijakan luar negeri, bahwa perang di Laut China Selatan atas Taiwan antara Washington dan Beijing sangat mungkin terjadi.

Express.co.uk memberitakan, sebuah laporan dari lembaga think tank Council on Foreign Relations (CFR) mengatakan kepada Biden bahwa “krisis parah” di Laut China Selatan dapat terjadi pada tahun ini. Kondisi ini menunjukkan tindakan China yang semakin agresif terhadap Taiwan yang mengarah ke “titik nyala berbahaya” bagi AS.

Survei Prioritas Preventif tahunan CFR telah menyoroti potensi risiko perang di Taiwan yang telah meningkat menjadi “konflik tingkat atas”.

Para ahli yang berkontribusi untuk laporan tersebut mengatakan Taiwan khususnya tengah berkembang menjadi titik nyala paling berbahaya di dunia untuk kemungkinan perang yang melibatkan Amerika Serikat, China, dan mungkin kekuatan besar lainnya.

Dalam upaya untuk mencegah potensi konflik, Biden telah didesak untuk mengubah dan mengklarifikasi strategi Indo-Pasifiknya.

“Tujuan strategis AS mengenai Taiwan harus ditujukan untuk mempertahankan otonomi politik dan ekonominya, dinamismenya sebagai masyarakat bebas, dan pencegahan sekutu AS – tanpa memicu serangan China ke Taiwan,” demikian bunyi laporan CFR.

Beijing menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri yang harus bersatu kembali dengan China, dan mengancam akan merebut negara itu dengan paksa.

Red

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *