23 April 2021
  • 23 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Begini Analisa Capt Vincent soal Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Begini Analisa Capt Vincent soal Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

By on 15 January 2021 0 71 Views

Ket. Gbr: Capt Vincent Raditya ungkap analisanya terkait kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, pesawat oleng dalam 1 Menit, terus menerus berubah posisi. (Foto: tangkapan layar chanel Youtube/ROC)

ROC – Baru-baru ini Captain Vincent Raditya membeberkan analisanya terkait data pesawat Sriwijaya Air SJ182 sebelum jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021) beberapa hari lalu.

Analisa tersebut disampaikan Vincent Raditya berdasarkan data Sriwijaya Air SJ 182 yang tertera di situs flightradar24. Melalui kanal Youtube-nya, Vincent menjelaskan perihal keadaan serta kondisi pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sebelum jatuh. Penjelasan tersebut disampaikan Vincent Raditya berdasarkan keilmuan serta pengalamannya selama menjadi pilot.

“Saya akan membahas data yang ada di flight radar 24. Saya tidak akan membahas apa kira-kira penyebabnya. Saya hanya membahas, apa data yang ada di flightradar24,” kata Capt Vincent Raditya, dikutip republik-online.com, Jumat (15/1).

Sebelum masuk ke penjelasan, Capt Vincent memberikan peringatan. Bahwa ia tidak akan mengurai asumsi terkait penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, ia hanya akan mencoba menjelaskan kondisi dan posisi pesawat berdasarkan data yang ada.

Dalam videonya, Capt Vincent mengatakan hanya akan mengurai penjelasan terkait data yang ada di situs flightradar24 mengenai pesawat Sriwijaya SJ 182.

“Data yang ada di flightradar24  ini bisa saja salah, belum tentu akurat. Ini bukan sesuatu yang pasti, hanya ancer-ancer saja,” sambung Capt Vincent.

Memulai analisanya, Capt Vincent menunjukkan data yang ada di flightradar24 mengenai posisi pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Pada pukul 13.37 WIB, pesawat masih terparkir di Bandara Soekarno-Hatta.

Capt Vincent lantas menjelaskan detail menit per menit setiap pergerakan pesawat tersebut. Mulai dari saat pesawat terparkir di Bandara Soetta hingga pesawat take off.

“Pukul 14.36 WIB pesawat mulai take off. Pada saat take offnya sendiri, bisa dikatakan cukup normal, kecepatannya cukup normal,” ujar Capt Vincent.

Terus melihat data yang terpampang di situs, Capt Vincent tak melihat ada hal yang aneh saat pesawat tersebut mulai take off.  Pada pukul 14.36 WIB, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 juga menurut Capt Vincent sudah on the track. Artinya, pesawat memang sudah terbang di jalur yang seharusnya guna menuju Pontianak.

Pada pukul 14.39 WIB, kondisi pesawat menurut Capt Vincent masih normal. Hal tersebut dilihat dari kecepatan, track hingga ketinggian yang tampak normal. Namun tak sampai satu menit, pesawat tersebut mendadak oleng 3 derajat. Yakni dari posisi semula 46 derajat menjadi 43 derajat.

Melihat hal tersebut, Capt Vincent menjelaskan bahwa itu lumrah terjadi. Saat pesawat mengalami turbulensi, perpindahan posisi berubah sekian derajat adalah hal wajar.

“Bisa enggak terjadi? bisa saja. Kalau kena turbulens, bisa saja dia belok ke kiri,” kata Capt Vincent.

Namun, kemiringan pesawat Sriwijaya Air tersebut justru semakin bertambah. Sebab dalam waktu sekian detik, pesawat  tersebut kembali oleng dengan kemiringan tajam hingga 16 derajat.

“Tapi, tiba-tiba, tidak sampai 1 menit. Pesawat ini belok dari 46 ke 30 ini sudah 16 derajat off track. Ini sesuatu hal yang sudah cukup mencurigakan,” ujar Capt Vincent.

Momen tersebut diakui Capt Vincent adalah indikasi awal pesawat Sriwijaya Air ada masalah. Karena dalam detik selanjutnya, posisi pesawat tersebut terus berubah dan semakin oleng hingga 6 derajat.

Kala itu, kecepatan dan ketinggian pesawat masih normal yakni di atas 250 knot dengan ketinggian 10.000 kaki.

“Ini sudah mulai mengindikasikan pesawat menikung secara stip nih ke kiri. Di sini sudah out track. Dari 46 derajat pindah jadi 6 derajat. Waktunya 14.40 menit. Kurang dari 1 menit, pesawat ini off track 40 derajat,” ungkap Capt Vincent.

“Pesawat itu hilang kontak 11 nautical mile lepas pantai Jakarta saat menanjak dari ketinggian 11,000 feet menuju 13,000 feet pukul 07.40 UTC atau sekitar pukul 14.40,” tambahnya.

Masih pada pukul 14.40 WIB, pesawat Sriwijaya Air tersebut secara mendadak juga mengalami penurunan ketinggian dan kecepatan secara drastis. Hal tersebut menurut Capt Vincent adalah sebuah tanda bahwa pesawat Sriwijaya Air diduga mengalami stall.

Stall adalah kehilangan daya angkat. Pesawat bisa terbang karena adanya daya angkat. Jika daya angkatnya hilang, pesawat tidak akan bisa terbang di udara.

“Kurang dari satu menit, pesawat ini menghadap ke kiri. Sangat drastis dan stip. Heading 339 derajat. Pesawat ini dive down (ketinggiannya berkurang menjadi) 8.950 kaki dari 10.700 kaki. Tiba-tiba kecepatannya 224 knot,” jelasnya.

“Ini ada kemungkinan, indikasi airspeed dia di bawah 200 knot. Artinya di pesawat, clean configuration, sudah cukup berisiko untuk terkena stall,” tambah Capt Vincent.

Terus menerus berubah posisi, pesawat Sriwijaya Air itu pun akhirnya mencapai ketinggian yang tak wajar. Pun dengan kecepatan yang juga menurun drastis.

“Ground speed 115 knot, ini indikasi crash kuat sekali. Bahwa pesawat ini terkena full stall. Akan sulit sekali untuk di-recover dengan ketinggian 5.400 kaki,” imbuhnya.

“Ini sudah sesuatu yang enggak normal. Pesawat ini off track dengan kecepatan yang tidak seharusnya dan ketinggian yang tidak seharusnya,” ujarnya.

Melihat kejanggalan tersebut, Capt Vincent pun menjelaskan,  bahwa dalam satu menit,  pesawat tersebut mengalami perubahan mulai dari posisi, ketinggian hingga kecepatan yang drastis.

“Hanya dalam satu menit, pesawat itu jatuh dari ketinggian 11 ribu dengan kecepatan yang sangat ekstrem, 358 knot atau 553 km per jam,” imbuhnya.

Selesai membaca data tersebut, Capt Vincent kembali mengurai disclaimer. Bahwa apa yang ia sampaikan hanya berdasarkan data. Dengan akurasi ketepatan berkisar 20 sampai 30 persen saja.

“Inilah yang Saya bisa baca berdasarkan pengalaman saya di aviasi. Saya hanya memberikan gambaran dengan data kalau kita lihat. Ini bukan data yang pasti. Kita tidak bisa menerka-nerka. Tapi ini hanya baca data apa yang ada di dalam flight radar,” pungkas Capt Vincent.

Sebelumnya diberitakan, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dinyatakan hilang kontak di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, pada Sabtu sekitar pukul 14.40 WIB.

Pesawat tersebut hilang kontak 4 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Sabtu (9/1/2021).

Pesawat mengangkut 62 orang, yang terdiri dari 6 kru, 46 penumpang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi. Pesawat Sriwijaya Air sempat keluar jalur yakni menuju arah barat laut pada pukul 14.40 WIB.

Pihak Air Traffic Controller (ATC) kemudian menanyakan pilot mengenai arah terbang pesawat. Namun, dalam hitungan detik, pesawat dilaporkan hilang kontak.

Red

 

 

 

 

👉Terimakasih sudah membaca & membagikan link republik-online.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *