17 October 2019
  • 17 October 2019
Breaking News
  • Home
  • Internasional
  • Banyak Orang Ingin Pindah ke Selandia Baru, Usai Penembakan Biadab di Christchurch

Banyak Orang Ingin Pindah ke Selandia Baru, Usai Penembakan Biadab di Christchurch

By on 29 March 2019 0 126 Views

Republik-online.com – Selepas peristiwa serangan teroris di dua masjid di Christchurch dua pekan lalu, Selandia Baru yang selama ini dikenal sebagai negara damai kini dipandang sebagai negara yang kurang aman.

Namun bukannya orang malah takut, respons publik terhadap Negeri Kiwi justru berbeda dari yang dibayangkan. Sebab, lebih banyak orang di seluruh dunia mengaku ingin pindah ke sana.

Dilansir dari laman the New York Times, Kamis (28/3), Badan Imigrasi Selandia Baru mengatakan bahwa pendaftaran izin tinggal dan bekerja di negara itu, yang dikenal sebagai langkah pertama pengajuan visa, telah meningkat dalam 10 hari setelah tragedi penembakan dua masjid di Christchurch, dibandingkan dengan jumlah hari yang sama sebelumnya.

Peter Elms, asisten manajer umum Imigrasi Selandia Baru, mengatakan bahwa ada 6.457 pendaftaran izin tinggal pascapenembakan, dan 4.844 dalam 10 hari sebelumnya.

Peningkatan terbesar datang dari Amerika Serikat, yang memiliki 1.165 pelamar dibandingkan dengan 674 aplikasi pada periode serupa menjelang serangan teror yang menewaskan 50 orang itu.

Selain gelombang permintaan dari Amerika, terjadi pula peningkatan besar dalam pendaftaran imigrasi dari orang-orang di negara-negara mayoritas muslim.

Orang-orang dari Pakistan–di mana sembilan warga negaranya menjadi korban teror–membuat 333 pendaftaran setelah tragedi penembakan, dibandingkan dengan 65 dalam 10 hari sebelumnya.

Orang-orang yang berasal dari Malaysia membuat 165 aplikasi izin tinggal, dibandingkan dengan 67 pada periode menjelang serangan.

Ini bukan kali pertama terjadi peningkatan minat publik dunia untuk pindah ke Selandia Baru, sebuah negara di Pasifik Selatan yang berpenduduk sekitar 5 juta jiwa.

Dalam 24 jam setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat (AS) pada 2016, pejabat imigrasi Selandia Baru menerima 7.000 pelamar dari Negeri Paman Sam dan 17.000 aplikasi selama sebulan penuh setelahnya.

Sebelumnya, imigrasi Selandia Baru biasanya menerima sekitar 3.000 pernyataan minat tinggal dari warga AS setiap bulannya.

Teror penembakan di Christchurch dilakukan oleh seorang pria bersenjata yang menyasar Masjid Al Noor dan Linwood City Mosque, ketika para jemaahnya tengah menunaikan ibadah salat Jumat.

Total 50 orang dilaporkan tewas dalam aksi teror paling berdarah di Selandia Baru itu.

Tragedi tersebut mendorong Perdana Menteri Jacinda Ardern bergerak cepat untuk menerapkan pembatasan ketat pada jenis senjata semi-otomatis yang digunakan dalam serangan 15 Maret itu.

Ardern telah menerima pujian luas dari dalam dan luar negeri atas penanganannya terhadap serangan teror itu, termasuk keputusannya mengenakan kerudung ketika mengunjungi para keluarga korban dan kelompok muslim pascapenembakan.

Mustafa Farouk, Presiden Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru, mengatakan keluarga para korban serangan Christchurch telah berbicara tentang respons negara itu dengan cara yang cemerlang, dan dia tidak terkejut bahwa begitu banyak orang yang ingin pindah ke sana.

Mengacu pada keluarga Mucad Ibrahim, seorang bocah bocah lelaki berusia 3 tahun yang terbunuh dalam serangan itu, Farouk berkata, “Ayahnya memberi tahu saya bahwa ia dulu mencintai Selandia Baru, tetapi sekarang ia lebih mencintai Selandia Baru.” [spy-007]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *