23 April 2021
  • 23 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Banjir Bandang di Flores Timur: Korban Jiwa Capai 80 orang, Jokowi Ungkapkan Duka Cita

Banjir Bandang di Flores Timur: Korban Jiwa Capai 80 orang, Jokowi Ungkapkan Duka Cita

By on 5 April 2021 0 33 Views

Warga menyaksikan banjir bandang yang merusak permukiman di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT. Sejumlah rumah tertutup lumpur pascabanjir bandang yang terjadi pada Minggu (04/04). Foto: dokumentasi Humas BNPB.

ROC – Pihak berwenang dan tim penyelamat hingga Senin (5/4) terus berupaya mengevakuasi korban dan memberi bantuan darurat kepada para warga yang terdampak banjir bandang di beberapa wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah korban jiwa pun bertambah.

Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan pada Senin (05/04) hingga pukul 13.00 Wita, jumlah korban meninggal dunia di Kabupaten Flores Timur bertambah menjadi 69 orang dan 19 lainnya masih dalam pencarian.

Secara rinci, di Kecamatan Ille Boleng 57 orang meninggal dan 17 masih dicari, begitu pula di Kecamatan Adonara sebanyak 9 orang meninggal dan dua orang dalam pencarian, sedangkan di Kecamatan Wotan Ulumado tiga korban tewas telah dievakuasi. Di Kabupaten Flores Timur pula sedikitnya 256 jiwa warga mengungsi di Balai Desa Nelemawangi dan sejumlah warga lainnya mengungsi di Balai Desa Nelelamadike.

Sedangkan di Kabupaten Lembata, hingga Senin (5/4) pukul 14.00 WIB belum ada data terbaru. Sejauh ini banjir bandang di sana menewaskan 11 warga dan 16 lainnya hilang.

Dengan demikian, hingga Senin (05/04) siang total jumlah korban yang meninggal dunia tercatat mencapai sedikitnya 80 orang.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengatakan angka-angka itu masih akan terus berkembang.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) Senin siang menyatakan telah memerintahkan Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Menteri Sosial, Menteri Kesehatan, Menteri PUPR, Panglima TNI dan Kapolri untuk segera melakukan evakuasi dan menangani korban bencana di lapangan.

“Selain itu, segera melaksanakan penanganan dampak bencana yang diperlukan,” kata Jokowi yang disiarkan dalam akunnya di Twitter, seraya menyatakan dukacita yang mendalam atas korban meninggal dunia dalam musibah tersebut atas nama pribadi dan rakyat Indonesia.

Proses pengiriman bantuan untuk mencari dan mengevakuasi korban akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Flores Timur, NTT, masih sulit dilakukan lantaran akses ke lokasi bencana terganggu hujan deras dan gelombang tinggi, menurut BNPB. Di sisi lain, evakuasi korban yang tertimbun lumpur masih terkendala alat berat.

Banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (04/04) dini hari, disebut seorang warga merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.

BNPB mencatat lokasi terdampak ada di empat kecamatan dan delapan desa.

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan upaya antisipasi kepada warga “sudah dilakukan dengan menyampaikan informasi cuaca ekstrem” dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Tapi titik-titik yang terjadi (bencana banjir bandang) tersebut selama ini tidak pernah terkena banjir,” kata Anton, hari Minggu (4/4).

Pengiriman logistik ke Pulau Adodara terkendala oleh cuaca ekstrem

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengakui pengiriman bantuan logistik kepada korban yang terdampak banjir dan longsor, terkendala kondisi geografis.

“Untuk mendapatkan aksestabilitas, terutama pulau-pulau kecil, menjadi tantangan kita di sana,” katanya.

Karena cuaca ekstrem, bantuan logistik belum bisa dikirim melalui angkutan laut ke Pulau Adonara.

“Apakah nanti akan menggunakan pesawat atau heli, nanti akan kami sampaikan selanjutnya,” ungkapnya.

Apakah alat-alat berat dapat dikirim ke lokasi?

Dia menambahkan, tantangan terberat lainnya adalah mengevakuasi dengan memanfaatkan alat-alat berat.

Ditanya apakah pemerintah sudah menetapkan status bencana di Flores Timur, Raditya mengatakan sejauh ini belum ada informasi tentang hal itu.

“Mungkin besok akan ditetapkan (statusnya), tapi kita lihat dulu perkembangannya,” katanya.

Cerita warga di Kecamatan Adonara: ‘Kami semua sangat panik’

Wenchy Tokan, seorang warga di Kelurahan Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, mengatakan banjir bandang yang terjadi pada Minggu (04/04) dini hari membuat panik sebab warga tak sempat menyelamatkan diri.

Ia bercerita, hujan deras mulai turun pukul 23.00 WITA dan tak berselang lama banjir dari wilayah perbukitan sekitar Kecamatan Adonara Timur menghantam rumah-rumah yang berada di pesisir sungai.

Saat itu, katanya, mayoritas warga sedang tidur.

“Kami semua sangat-sangat panik. Bahkan kami temukan ada mayat ditemukan di luat masih di atas kasur, karena kebanyakan warga sedang tidur,” imbuh Wenchy Tokan, dilansir dari BBC News Indonesia, hari ini Senin (5/4).

“Bangunan semua selesai (hancur) semua. Rumah permanen dan semi permanen, hanyut ke laut,” sambungnya. Perkiraan Wenchy setidaknya 50 rumah hancur.

‘Kami dalam kondisi terisolir’

Selain itu banjir bandang juga membuat dua jembatan dari beton yang menghubungan antar-desa juga terputus, ungkapnya.

“Satu pembangkit listrik juga padam,” tambahnya.

Karena itulah, warga di Kelurahan Waiwerang maupun Desa Waiburak kini dalam kondisi terisolir”, kata Wenchy.

Di wilayah ini, tim Basarnas mencatat tiga orang meninggal, empat orang luka-luka, dan lima dinyatakan hilang.

Pencarian korban meninggal maupun yang hilang, ujar Wenchy, dilakukan secara manual dengan sekop.

Adapun puluhan warga yang terdampak, lanjut Wenchy, kini diungsikan ke satu gedung sekolah dan sangat membutuhkan selimut serta susu untuk balita.

Sementara bantuan makanan dari pemda, belum sampai.

“Untuk sementara ini warga datangkan penanak nasi, masak untuk pengungsi. Besok baru diatur untuk membuat dapur umum.” tambahnya.

Berharap bantuan dari pemerintah pusat

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan informasi bencana banjir bandang di empat kecamatan itu baru ia dapatkan sekitar pukul 08.00 WITA karena jaringan komunikasi yang terputus.

Sejak pagi hingga sore hari, katanya, pemda belum bisa mengirim alat berat untuk membantu proses pencarian dan pengiriman makanan kepada warga yang mengungsi di pulau tersebut.

Di lokasi terparah yakni di Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, setidaknya ada 1.200 orang yang mengungsi di tiga lokasi yakni gedung gereja dan sekolah.

Namun karena putusnya jembatan penghubung dan akses jalan yang tertutup longsor, pendirian dapur umum masih terhambat.

Karena itulah, ia berharap ada “dukungan pemerintah pusat untuk penanganan para korban”.

Ia berharap Senin (5/4) pengiriman alat berat maupun bahan makanan sudah bisa dikirim.

Berdasarkan perkiraan BMKG pada 5 April – 6 April, status Nusa Tenggara Timur dalam kondisi siaga potensi hujan sedang dan lebat yang disertai petir dan angin kencang pada gai hingga siang hari.

Red

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *