27 May 2020
  • 27 May 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Aturan PSBB Kerap Bikin Warga dan Aparat Bentrok di Lapangan, Ini Faktanya

Aturan PSBB Kerap Bikin Warga dan Aparat Bentrok di Lapangan, Ini Faktanya

By on 4 May 2020 0 37 Views

Foto: dok.ROC/idj

Jakarta, ROC — Viral video yang menunjukkan seorang pria di Bogor mengamuk karena dianggap melanggar aturan PSBB yakni melanggar konfigurasi penumpang dan ditegur oleh petugas.

Dalam video itu, seorang pria berbaju hitam yang memakai masker ini tak mau memindahkan istrinya ke kursi belakang mobil. Dia pun menegaskan dengan nada tinggi ke petugas, bahwa dia sudah mengikuti aturan PSBB.

“Ya sudah saya jelaskan, silakan foto! Nama saya Endang Wijaya. Sampaikan ke Pemerintah Daerah Bogor, Bima Arya. Saya menghormati aturan, tapi saya lebih menghormati aturan Allah. Saya suami harus menghargai istri saya,” kata pria itu seperti video yang beredar di media sosial, Minggu (3/5).

“Saya tidak mau meninggalkan istri saya ke belakang rumah, ke belakang ini, saya tidur dengan istri tidak apa-apa, masa di dalam mobil harus pindah. Saya sudah mematuhi aturan, pakai ini masker, bawa hand sanitizer, segala macem. Apanya yang salah!,” lanjut pria tersebut.

Atas video tersebut, berbagai pendapat warganet dan beberapa pihak kembali muncul dari sudut pandang berbeda. Diantaranya adalah, misalnya jarak, antara sopir dan penumpang di area depan, tidak ada bedanya dengan jarak dua penumpang di jok tengah atau belakang.

Persoalan ini tentu bukan jadi urusan petugas gabungan yang berjaga di jalan raya. Sebagai aparat penegak hukum, tugas mereka memang mengacu pada ketentuan yang telah disusun pemerintah.

Bertolak dari sudut pandang ini, para petugas gabungan di wilayah Empang, Kota Bogor tak salah jika menegur pria pengemudi mobil yang enggan memindahkan penumpangnya ke area belakang.

Namun, di sisi lain, pria pengemudi mobil itu juga tak bisa disalahkan sepenuhnya. Penolakan pria itu punya alasan yang masuk akal: penumpang yang dipaksa pindah ialah istri yang setiap hari bahkan berbagi tempat tidur dengannya.

Maka, persoalan di Empang, Bogor, Minggu kemarin, berpangkal pada peraturan yang tak cukup memadai dalam menjawab persoalan yang mungkin akan timbul di lapangan.

Baik warga maupun aparat penegak hukum justru bentrok di lapangan karena aturan yang mestinya jelas hitam-putihnya, justru menyisakan celah abu-abu.

Kasus keributan di Bogor tersebut juga menjadi aneh jika dibandingkan dengan diizinkannya pengendara motor berboncengan, asalkan keduanya tinggal dalam alamat yang sama.

Jarak antara pengendara motor dan penumpang tentu lebih dekat jika dibanding jarak antara sopir dengan penumpang yang duduk di area depan mobil, di sebelah sopir.

Seperti dicontohkan sebuah kasus di Kota Depok, Jawa Barat, pada 15 April 2020 lalu, ada pasangan suami-istri yang berboncengan di jalan raya dan membawa buku nikah untuk ditunjukkan kepada aparat gabungan.

Pasalnya, pemotor hanya diizinkan membonceng penumpang yang satu alamat dengan dirinya, sedangkan pasutri itu tidak sedang memegang KTP untuk ditunjukkan sebagai bukti.

Sementara itu di Jakarta Timur, Kasatlantas Polres Metro Jakarta Timur AKBP Suhli pada 21 April 2020 mengatakan, bukti pernikahan harus ditunjukkan oleh pasangan pengantin baru agar diizinkan melintas di wilayah PSBB. Itu hanya sebagian kecil dari begitu banyak kasus, yang telah terjadi di lapangan selama masa PSBB di berlakukan.(red)

 

👉Terimakasih sudah membaca & membagikan link republik-online.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *