28 October 2020
  • 28 October 2020
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • Akhyar Nasution Hengkang dari PDI-P, Megawati : Orang Tidak Direkom Terus Ngamuk, Ya Saya Pecat!

Akhyar Nasution Hengkang dari PDI-P, Megawati : Orang Tidak Direkom Terus Ngamuk, Ya Saya Pecat!

By on 28 August 2020 0 97 Views

Foto: Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri membuka sekolah cakada gelombang kedua.

ROC – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri, terpaksa memecat Akhyar Nasution, petahanan Wali Kota Medan sebagai kader partainya.

Megawati menjelaskan, keputusan tersebut diambil lantaran yang bersangkutan tidak taat kepada aturan partai. Akhyar kecewa karena PDIP lebih memilih Bobby Nasution sebagai bakal calon wali kota Medan ketimbang dirinya.

Megawati sebut rekomendasi cakada merupakan hak prerogatif ketum partai. Padahal, keputusan untuk memberikan rekomendasi unjuk maju sebagai calon kepala daerah adalah mutlak hak prerogatif Mega sebagai ketua umum partai. Hal tersebut disampaikan Mega saat pidato pembukaan sekolah cakada PDIP Gelombang II secara daring.

“Ada itu di Medan, dia masuk sebagai PDI Perjuangan. Itu bayangkan loh, urusan rekomendasi itu sudah otorisasi saya, karena saya dipilih oleh kongres partai, semua mesti tahu itu. Kongres partai lah memberikan namanya hak prerogatif,” kata Megawati, Rabu (26/8).

“Nah, ada orang tidak direkom terus ngamuk. Lah pikir loh. Ini gimana. Katanya kader partai? Ya sudah aturan partainya gimana? Ya saya pecat. Iya dong, fair,” kata Mega menambahkan.

Menurutnya, Akhyar boleh marah kepada Megawati, tapi secara pribadi. Jangan Sebagai Ketua Umum. Namun belakangan, Akhyar malah pindah ke Partai Demokrat untuk maju di Pilwalkot Medan dengan dibantu oleh PKS.

“Mau marah sama saya ya boleh. Tapi marahnya hanya pribadi. Kalau (marah ke saya) sebagai ketum, nggak bisa. Karena (rekomendasi cakada) itu adalah hak saya. Supaya tahu loh. Supaya tahu,” ujar Mega.

Megawati mengaku surat rekomendasi cakada tidak pernah diperjual belikan. Dia sempat menyinggung soal secarik surat rekomendasi calon kepala daerah yang ditandatanganinya sangat dinanti banyak orang. Jika saja dia mau memperjualbelikannya, akan banyak orang yang bersedia membayar uang. Namun, hal itu tak pernah dilakukannya.

“Kalian bayar nggak untuk rekom saya? Kalau ada yang bilang bahwa ketum itu menjual rekomendasi, kalian saya panggil. Ini adalah karena keputusan partai yang direkomendasi oleh ketua umumnya,” tuturnya. (red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *