21 August 2019
  • 21 August 2019
Breaking News
  • Home
  • Nasional
  • Politik
  • Adjeng Ratna Suminar Sebut Peran Perempuan Dominan Majukan Sektor Pertanian

Adjeng Ratna Suminar Sebut Peran Perempuan Dominan Majukan Sektor Pertanian

By on 24 September 2018 0 311 Views

Bandung, ROC – Dominasi peran perempuan dalam kehidupan sehari sangat terlihat penting terutama di lingkungan pedesaan yang kental dengan dunia pertanian. Perempuan perempuan di desa yang akrab dengan dunia pertanian bahkan tak lagi mengenal dunia karier atau pekerjaan lain dan dunia pertanian sudah begitu melekat dalam kehidupan sehari hari.

Menurut DR. Hj. R Adjeng Ratna Suminar, SH, MM. Caleg DPR-RI Dapil Jabar 2, dari Partai Demokrasi Indonesia menyebutkan, Dominasi pekerjaan perempuan dalam dunia pertanian tidak hanya terlihat dalam dunia pertanian sawah juga terlibat dalam dunia perkebunan tanaman lain.

“Sudah kita ketahui bersama, perempuan sejak awal dibekali keterampilan luar biasa dalam mengelola lahan pertanian. Proses bercocok tanam pada masa purbakala telah diperkenalkan oleh kaum perempuan sebagai solusi menghadapi persediaan pangan guna bertahan hidup menggantikan fase berburu yang sewaktu-waktu tak bisa dilakukan karena kondisi subjektif perempuan,” ujar Adjeng saat ditemui ROC di kediamannya di Majalaya, Kabupaten Bandung. (23/9).

Caleg DPR RI Dapil Jabar 2, DR Hj. Adjeng Ratna Suminar, SH. MM bersama petani perempuan di Majalaya.

Menurut ibu tiga anak ini, peran perempuan dalam bercocok tanam sama beratnya dengan laki-laki. Pasca melakukan pengolahan tanah, peranan dan fungsi perempuan belum berhenti cukup disitu melainkan masih memiliki perananan lain diantaranya memobilisasi dan mengerahkan sumber daya manusia yang ada dengan mencari tenaga tenaga kerja perempuan untuk menyiapkan bibit padi dari persemaian, tandur, menyiangi rumput, dan setelah lahan pertanian sudah cukup siap untuk ditanami maka perempuan bertugas menanam padi.

“Namun saat ini peran perempuan di dunia pertanian semakin terkikis setelah munculnya revolusi hijau. Dimana salah satu revolusi ini telah bermunculan alat-alat produksi pertanian yang canggih dan akhirnya menggusur tangan-tangan kreatif perempuan dari perannya menyemai padi, bercocok tanam, menyiram tanaman hingga proses pemupukan dan perawatan yang lain. Akibatnya, perempuan menjadi kehilangan akses pekerjaan dibidang pertanian, sekalipun menjadi buruh tani,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan, lanjut Adjeng, selain revolusi hijau saat ini lahan pertanian semakin berkurang, dan kaum perempuan terutama yang muda saat ini sudah mulai terbawa arus modernisasi ahlaq. Dimana anak muda jaman sekarang ini lebih mengutamakan gengsi dan mendahulukan budaya malu.

Ibu Adjeng Ratna Suminar saat melihat kondisi areal pesawahan

“Pola ini sudah berubah drastis, hampir 99 persen petani  perempuan yang bekerja di sawah rata-rata sudah berumur, sangat jarang, atau bahkan tidak ada sama sekali generasi muda,”keluhnya.

Namun, beliau masih bersyukur. Hingga saat ini masih ada kaum perempuan yang masih berperan di dunia pertanian. Karena kaum perempuan tak bisa dilepaskan dari peranan memajukan sektor pertanian khususnya di Jawa Barat yang menjadi salah satu lumbung padi terbesar di Indonesia.

“Di Hari Tani Nasional ini, kita berharap ke depannya pembangunan lebih menyasar kepada kaum perempuan. Selain bisa mencari mata pencaharian di sektor pertanian juga diberikan keterampilan khusus yang bisa meningkatkan ekonomi perempuan di pedesaan berkaitan dengan sektor pertanian,” pungkasnya. (Red)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *