4 April 2020
  • 4 April 2020
Breaking News

Kenapa Ada Virus Corona ? Ini Kajian Lainnya

By on 14 February 2020 0 597 Views

Jakarta, ROC – Wabah Pandemi Virus Corona Wuhan China yang sedang terjadi saat ini, ternyata telah dituliskan sejak 450 tahun yang lalu oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dalam bukunya “Les Prophéties” (The Propechies) khususnya pada bagian Century II, Quatrain 53.

 

Berikut isi kutipannya:

“La grande peste de cite maritime,

Ne cessera que mort ne soit vengée,

Du juste sang par pris damné sans crime,

De la grande dame par feinte n’outraigee.”

( Les Prophéties, Century II, Quatrain 53 )

 

Kutipan Sajak 4 Baris di atas aslinya ditulis oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dalam Bahasa Perancis, namun kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Namun sayangnya, jika kita mencoba melakukan googling lewat mesin pencari google, maka kita akan menemukan beberapa versi terjemahan bahasa inggris yang berbeda-beda, sehingga tentunya hal ini akan menyulitkan kita dalam memaknainya, karena hasil terjemahan yang berbeda sudah tentu akan menyebabkan pemaknaan yang berbeda pula.

Nah berangkat dari permasalahan ini, maka kemudian saya mencoba menterjemahkan kutipan sajak 4 baris di atas dengan metode kata per kata, dari bahasa perancis ke bahasa inggris, lalu berlanjut dari bahasa inggris ke bahasa indonesia. Dan yang paling terpenting kemudian adalah bagaimana merangkaikan makna kata-kata tersebut satu persatu hingga menjadi makna yang utuh, dan tentunya hal ini harus dilakukan dengan terlebih dulu membuka cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin sambil terus memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar diberikan pemahaman yang sempurna dalam memahami dan memaknainya.

Berikut terjemahan kata per kata dari sajak 4 baris Michael Le Nostradame (Nostradamus) khususnya pada bagian Century II, Quatrain 53.

La grande peste = the great plague // wabah besar, wabah pandemi.

De cite maritime = of maritime city, of naval city // kota maritim, kota bahari (kota sungai), kota yang berhubungan dengan laut.

Ne cessera = will not stop // tidak akan berhenti.

Que = that, than, which, what, whom // yang, lalu, apa, siapa.

Mort = death, dead, die, gone // kematian, mati, pergi.

Ne soit = either // juga.

Vengée = avenged, avenge, revenge // dibalaskan, membalas, balas dendam.

Du = of, due, owing // oleh, karena, terhutang.

Juste = fair, just, right, true, accurate // adil, baru, baik, benar, akurat.

Sang = blood // darah.

Par = by // dengan.

Pris = taken // diambil.

Damné = damned // terkutuk, dikutuk

Sans = without, wanting // tanpa, kurang, kekurangan.

Crime = crime, offense, felony, misdeed // kejahatan, pelanggaran, kejahatan besar, dosa, kelakuan buruk.

De = of // oleh.

La grande dame = the great lady // sang putri agung (bedakan dengan diksi kata “La grande madame” yang berarti “sang ratu agung”).

Par = by // dengan.

Feinte = feint, fake, dummy // berbohong, palsu.

n’ outragee: and outraged, insult, offend, abuse // marah, menghina, menyinggung, penyalahgunaan.

Sehingga jika terjemahan kata per kata di atas kita rangkaikan menjadi satu, maka terjemahannya akan menjadi sebagai berikut:

“Wabah besar (wabah pandemi) kota maritim (kota sungai/kota naval) tidak akan berhenti hingga ada kematian sebagai pembalasan yang adil akibat diambilnya darah-darah tanpa dosa hingga (mengundang) kutukan dari sang putri agung yang marah karena kebohongan.”

( Les Prophéties, Century II, Quatrain 53 )

Lalu pertanyaannya adalah:

“Terus dimana hubung keterkaitannya antara sajak 4 baris di atas dengan wabah pandemi virus corona 2019-nCoV Wuhan yang sedang menjadi momok bagi dunia saat ini?”

Dalam sajak 4 baris bagian Century II, Quatrain 53 di atas, terlihat bahwa Michael Le Nostradame (Nostradamus) sengaja menggunakan diksi kata “La grande peste” yang jika diterjemahkan secara kata per kata maka maknanya akan merujuk kepada “wabah besar” yang bahkan dapat dikatakan sebagai “wabah pandemi” yang cakupannya meluas hingga mencakup beberapa negara.

Selanjutnya Michael Le Nostradame (Nostradamus) menggunakan diksi kata “De cite maritime” yang jika diterjemahkan kata per kata maka maknanya akan merujuk kepada “kota maritim” atau “kota perairan”, sementara diksi kata “maritime” disana dalam terjemahan kata per katanya juga erat kaitannya dengan makna “naval” yang berarti “berhubungan erat dengan laut”.

 

Artinya apa?

Artinya, meskipun “kota maritim” sendiri dapat dimaknai sebagai “kota laut” dan juga “kota sungai”, namun untuk alternatif pemaknaannya sebagai “kota sungai”, maka ia harus tetap memiliki keterkaitan makna dengan makna “naval” yang berarti “berhubungan dengan laut”, sehingga pemaknaan diksi kata “de cite maritime” disini dapat dimaknai sebagai “kota sungai” yang dalam kesehariannya masih berkaitan erat dengan aktivitas yang berhubungan dengan laut.

Nah pertanyaannya adalah “kota maritim” seperti apa yang sebenarnya dimaksud oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) yang cocok dan sesuai dengan pemaknaan diksi kata “de cite maritime” yang telah kita bahas di atas?

Jawab:

Sesuai dengan judul dari tulisan ini yang berjudul “Isyarat Nostradamus tentang Wabah Pandemi Virus Corona Wuhan China” maka pembahasan “kota maritim” yang merujuk kepada diksi kata “de cite maritime” pun hanya akan kita fokuskan pada Kota Wuhan yang terletak di Provinsi Huabei, China sebagai titik awal teridentifikasinya strain baru Virus Corona 2019-nCoV untuk pertama kalinya.

Dalam beberapa literatur, disebutkan bahwa nama “Wuhan” adalah bentuk portmanteau (penggabungan nama) dari dua kota besar yang ada di bagian utara dan bagian selatan Sungai Yangtze yang membentuk kota metropolitan Wuhan. Artinya nama “Wuhan” disini merupakan bentuk portmateau dari akar kata “Wu” dan “Han”. Akar kata “Wu” sendiri merujuk pada nama kota “Wuchang”, yang berada di tepi sungai bagian selatan Sungai Yangtze, sedangkan akar kata “Han” diambil dari nama Kota “Hankou”, yang berada di tepi sungai bagian utara Sungai Yangtze.

Kemudian barulah pada tahun 1926, Ekspedisi Utara memutuskan untuk menggabungkan kota Wuchang, kota Hankou, dan juga satu kota tambahan lainnya yakni kota Hanyang menjadi satu kota untuk membentuk ibu kota baru Pemerintahan Nasionalis Tiongkok, dan baru pada 1 Januari 1927, kota gabungan ini resmi menyandang nama ‘武漢’ (aksara tradisional untuk “Wuhan”), yang kemudian disederhanakan menjadi ‘武汉’ (yang juga berbunyi “Wuhan”) yang dalam perjalanan waktu kemudian kota “Wuhan” ini disebut dengan julukan

“Jiāngchéng” yang artinya adalah “Kota Sungai”.

 

Kembali kepada bahasan kita tentang “de cite maritime” yang bermakna “kota maritim”.

Jika Indonesia dijuluki sebagai “negara maritim” karena wilayahnya terdiri atas banyak pulau-pulau (sekitar lebih dari 17.000 pulau) yang dikelilingi oleh perairan laut dan samudera, maka tidaklah salah jika kota “Wuhan” dijuluki sebagai “kota maritim” mengingat wilayahnya merupakan gabungan dari tiga kota sekaligus (yakni kota Wuchang, kota Hankou, dan kota Hanyang) yang secara geografis ketiganya berada di sisi utara dan sisi selatan Sungai Yangtze.

 

Nah sampai disini akhirnya kita menjadi paham bahwa yang dimaksud oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dengan kalimat “La grande peste de cite maritime” dalam kutipan sajak 4 baris Century II Quatrain 53, ternyata maknanya merujuk kepada “wabah besar (wabah pandemi) kota maritim (kota sungai) Wuhan, China”. Dan bukan tanpa alasan jika virus patogen penyebab wabah pandemi kota maritim itu pun diberi label oleh para ahli virologi dengan nama “Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) dimana kata “Novel” dalam nama tersebut diambil dari kata “Naval” yang berarti “berhubungan dengan laut”, salah satu makna yang masih berkaitan erat dengan pemaknaan etimologi diksi kata “de cite maritime”.

Sekarang mari kita lanjut kepada kalimat berikutnya dalam kutipan sajak 4 baris Century II Quatrain 53, yakni:

“Ne cessera que mort”

Dalam pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa terjemahan kata per kata dari kalimat “Ne cessera que mort” menghasilkan makna “tidak akan pernah berhenti sampai terjadi kematian”.

 

Artinya apa?

Artinya, wabah virus corona 2019-nCoV kota Wuhan China ini akan terus menyebar luas tanpa henti, tidak hanya menyebar dari kota Wuhan ke berbagai wilayah lainnya di Provinsi Huabei itu sendiri, tapi juga menyebar ke provinsi-provinsi lainnya di China, dan bahkan penyebarannya tidak hanya terbatas pada wilayah-wilayah di China saja, namun juga terus menyebar luas tanpa henti ke negara-negara lainnya di dunia.

Dan bukan hanya menyebar luas tanpa henti ke berbagai negara di dunia, wabah strain baru virus corona Wuhan 2019-nCoV ini pun ternyata tidak hanya menginfeksi banyak orang, namun juga dalam beberapa kasus menyebabkan kematian yang jumlahnya tidak sedikit, sehingga akhirnya wabah pandemi ini pun kemudian ditetapkan oleh badan kesehatan dunia WHO dengan status “darurat global”.

Dari awalnya hanya menginfeksi 1 (satu) orang pekerja restoran hotel bernama Li, yang mengunjungi Pasar Makanan Laut Huanan Wholesale Seafood Market pada 23 Desember 2019 sebagaimana dilaporkan oleh Sui-Lee Wee dan Vivian Wang pada 6 Januari 2020 dalam surat kabar harian New York Times, hingga kemudian strain baru virus corona Wuhan ini menginfeksi secara luas hingga menyebar ke berbagai negara di dunia. Bahkan data WHO (World Health Organization) per tanggal 31 Januari 2020 menunjukkan bahwa strain baru Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) ini telah menyebar di 34 negara, dan telah menginfeksi sekitar 9.811 jiwa, dimana 213 diantaranya meninggal dunia, dan jumlah kasus wabah pandemi Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) ini akan terus bertambah, hingga akhirnya berakhir pada pernyataan bahwa Allah saja yang Maha Mengetahui sampai dimana batas akhir penyebaran wabah pandemi Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) ini.

Inilah yang dimaksud oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dengan kalimat “Ne cessera que mort” yang bermakna “tidak akan pernah berhenti sampai terjadi kematian”.

 

Lanjut ke pembahasan kalimat berikutnya dalam kutipan sajak 4 baris Century II Quatrain 53, ternyata Michael Le Nostradame (Nostradamus) juga memberikan isyarat tentang apa penyebab dari wabah pandemi Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) ini.

Lanjutan kalimatnya berbunyi sebagai berikut,

“ne soit vengée, du juste sang par pris damné sans crime”

Terjemahan:

“sebagai pembalasan (sunatullah / karma / hukum alam) yang adil akibat diambilnya darah-darah tanpa dosa.”

Nah sampai disini, dibutuhkan kehati-hatian ekstra dalam memaknai kutipan sajak 4 baris Michael Le Nostradame (Nostradamus) di atas, karena ada beberapa tulisan dan narasi yang beredar di media sosial yang mengaitkannya dengan perlakuan Pemerintah China yang telah mengisolasi sekitar 10 juta suku Uighur Muslim di Xinjiang.

Lalu apa makna sebenarnya yang dimaksud oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus)?

Tentunya pemaknaan kutipan sajak 4 baris Michael Le Nostradame (Nostradamus) di atas harus dilihat keterkaitannya dengan lokasi titik awal dimana Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) berasal dan berawal mula, yang menurut laporan resmi Otoritas Kesehatan Pemerintah China disebutkan berasal dari

Pasar Grosir Makanan Laut “Huanan Wholesale Seafood Market” di Kota Wuhan.

Nah, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah,

“Whats up with Wuhan (ada apa dengan Wuhan) dan Why must be Wuhan (mengapa harus Wuhan)?”

 

Jawaban dari kedua pertanyaan inilah yang akan kita cari tahu bersama…

Fakta Pertama, merujuk kepada National Security China, diperoleh informasi bahwa Wuhan adalah “Center of Gravity of China” atau “jantung ekonomi bagi China” yang didasarkan pada konsep 3G (geopolitik, geostrategi dan geoekonomi).

Dalam konteks ilmu biologi, jantung merupakan organ paling vital bagi kehidupan makhluk hidup, sekuat dan sehebat apapun makhluk hidup, namun ketika organ vital “jantung”-nya lumpuh maka makhluk hidup itu pun juga akan menjadi lumpuh hingga berakibat pada ketidakmampuan seluruh organ-organnya melakukan aktivitasnya secara normal, dan bahkan pada titik ekstrimnya akan berujung  pada kematian. Maka demikian pula halnya yang akan terjadi pada sebuah negara, dimana ketika organ vital “jantung ekonomi”-nya lumpuh, maka akan menjadi lumpuh pula seluruh sendi-sendi aktivitas negaranya dan tentunya hal ini kemudian akan berdampak pada ketidakmampuan seluruh organ-organ sektor-sektor vital lainnya dari negara tersebut.

Kita semua tahu bahwa saat ini China telah menjelma menjadi sebuah negara “adidaya” yang memainkan peran vital perekonomian dunia lewat program “OBOR” (One Belt One Road). Dan hal ini rupanya telah lama diprediksi oleh The US National Intelelligence Council (NIC) dalam laporan hasil studinya yang dirilis pada Desember 2004 dengan judul “Mapping the Global Future: Report of the NIC’s 2020 Project” yang berisi tentang empat skenario dunia tahun 2020, yang salah satunya menyebutkan tentang “Davos World” dimana China diprediksi akan menjadi pemain utama dalam perekonomian dan percaturan politik dunia.

Berbagai prestasi besar yang telah berhasil diraih China inilah yang lantas membuat Presiden China, Xi Jinping lupa diri dan kemudian melontarkan ucapan “tidak ada kekuatan yang mampu mengguncang China”. Jelas ucapan ini adalah ucapan yang bernada “angkuh” dan “sombong” yang terucap dari seorang Xi Jinping atas pencapaian besar yang telah diraih China selama suksesi kepemimpinannya. Ibarat melempar batu ke langit, maka “gravitation effect” (efek hukum gravitasi) pun bekerja dengan sempurna sebagai hukum alam (sunatullah) yang bekerja sesuai dengan Ketentuan-Nya. Dan booooom, tiba-tiba China kemudian diserang oleh wabah pandemi virus patogen mematikan Novel CoronaVirus” (2019-nCoV), dan bukan tanpa alasan jika virus patogen mematikan ini kemudian Allah takdirkan menyebar luas dan berawal mula dari “Kota Maritim” (kota sungai) Wuhan, mengingat posisi Kota Wuhan bagi China adalah sebagai “Center of Gravity of China” atau “jantung ekonomi bagi China”.

Inilah salah satunya yang dimaksud oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dengan kalimat “ne soit vengée, du juste” yang berarti “sebagai pembalasan (sunatullah / karma / hukum alam) yang adil”.

 

Fakta Kedua,

Satu-satunya konfirmasi resmi tentang sumber wabah pandemi virus patogen mematikan Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) datang dari para ilmuwan CDC (Center for Disease Control and Prevention) China. Dalam laporannya yang dikutip dari kantor berita pemerintah, Xinhua, pada 28 Januari 2020, CDC China membenarkan jika sumber wabah pandemi virus patogen mematikan Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) itu berasal dari Pasar Grosir Makanan Laut “Huanan Wholesale Seafood Market” yang berada di Kota Wuhan.

Pasar Grosir Makanan Laut “Huanan Wholesale Seafood Market” sendiri adalah pasar tradisional yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, namun pasar ini juga menjual barang-barang dagangan yang tidak lazim, termasuk hewan liar hidup dan hewan liar siap olah. Dikutip dari surat kabar harian South China Morning Post, disebutkan bahwa Pasar Grosir Makanan Laut “Huanan Wholesale Seafood Market” memang menjual makanan laut biasa, seperti kepiting, udang dan ikan-ikan laut. Namun di sudut pasar tersebut, ditemukan banyak hewan tidak lazim yang juga diperjualbelikan, setidaknya ada sekitar 100 macam hewan liar yang diperjualbelikan di pasar tersebut, mulai dari kelelawar, ular, kucing, rubah, buaya, anjing, babi, serigala, keledai, musang, rusa hingga luwak bertopeng. Bahkan kura-kura, tikus, landak, koala, salamander raksasa, unta, burung unta dan burung merak juga diperjualbelikan di pasar tersebut. Hewan-hewan itu tidak hanya dijual sebagai hewan hidup, namun juga disembelih, dibekukan, kemudian dijual untuk menjadi bahan konsumsi masyarakat China.

Dikutip dari surat kabar harian South China Morning Post, seorang ekonom politik independen China, Hu Xingdou, mengatakan bahwa alasan budaya, ekonomi dan politik masih menjadi alasan mengapa orang China sangat suka mengkonsumsi daging hewan-hewan liar, disamping adanya anggapan yang diyakini masyarakat secara turun temurun bahwa mengkonsumsi hewan liar itu jauh lebih bernutrisi daripada hewan yang dikembangbiakan khusus untuk dikonsumsi.

Inilah pemaknaan lainnya yang dimaksud oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dengan kalimat “ne soit vengée, du juste sang par pris damné sans crime” yang berarti “sebagai pembalasan (sunatullah / karma / hukum alam) yang adil akibat diambilnya darah-darah tanpa dosa.”

Nah “darah-darah” dari hewan-hewan liar yang seharusnya bukan untuk dikonsumsi oleh manusia inilah yang dimaksud oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dengan kalimat “sang par pris damné sans crime” yang berarti “akibat diambilnya darah-darah tanpa dosa.”

Terlebih dengan maraknya isu mengenai penyebab wabah pandemi virus patogen Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) adalah akibat dari mengkonsumsi kuliner “sup kelelawar”. Berbeda dengan virus corona pendahulunya yakni virus corona “SARS-CoV” yang sumber penyebabnya memang berasal dari “kelelawar” lalu berpindah ke “musang” dan kemudian berpindah ke manusia, maka khusus untuk kasus wabah pandemi virus patogen Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) ini sebagaimana telah dikonfirmasi oleh hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Wei Ji dari Departemen Mikrobiologi, Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Peking, Sekolah Ilmu Kedokteran Dasar Beijing dan para peneliti lainnya di China, justru wabah pandemi virus patogen Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) ini ditularkan oleh spesies “ular” jenis Bungarus multicinctus dan Naja atra (ular kobra), yang merupakan spesies ular yang banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara dan China bagian selatan.

Singkat kata, untuk pertama kalinya spesies “ular” (tepatnya jenis “ular kobra”) menjadi hewan reservoir penularan virus corona dari hewan kepada manusia dalam wabah pandemi virus patogen CoronaVirus.

Nah, jika kita mau berpikir kritis, sebenarnya ada sebuah “tanda tanya” besar mengapa varian baru dari jenis beta-coronavirus Novel CoronaVirus” (2019-nCoV) ini justru ditularkan oleh spesies “ular kobra” yang banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara dan China bagian selatan, dan bukan berasal dari daratan Kota Wuhan itu sendiri.

Nah jawaban atas “tanda tanya” besar ini sebenarnya ada dalam kalimat berikutnya dalam kutipan sajak 4 baris Century II Quatrain 53.

Kalimat berikutnya berbunyi,

“De la grande dame par feinte n’outraigee”

Terjemahan:

“Oleh Sang Putri Agung yang marah karena kebohongan”

Nah penggalan kalimat ini harus dimaknai dengan merangkainya dengan kalimat-kalimat sebelumnya, sehingga menjadi berbunyi,

“ne soit vengée, du juste sang par pris damné sans crime, de la grande dame par feinte n’outraigee”

Terjemahan:

“sebagai pembalasan yang adil akibat diambilnya darah-darah tanpa dosa hingga (mengundang) kutukan dari sang putri agung yang marah karena kebohongan.”

 

Jadi, akibat diambilnya darah-darah tanpa dosa dari hewan-hewan liar yang seharusnya bukan untuk dikonsumsi oleh manusia, maka kemudian mengundang kemarahan dan kutukan dari “sang putri agung” sebagai bentuk pembalasan.

Lalu pertanyaannya adalah:

“Siapa gerangan yang dimaksud dengan sang putri agung?”

Nah untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus dapat menarik benang merah dari seluruh “puzzle-puzzle” yang diberikan oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dalam Sajak 4 Baris bagian Century II, Quatrain 53 tersebut dan kemudian merangkaikannya menjadi satu.

Dan puzzle-puzzle yang harus kita rangkai diantaranya adalah:

– Kata “naval” dimana nama Novel Coronavirus 2019-nCoV diambil, yang artinya adalah sesuatu yang berhubungan dengan laut.

– Diksi Kata “vengée” yang berarti “pembalasan”.

– Diksi kata “sang par pris damné sans crime” yang berarti “darah-darah yang diambil tanpa dosa”.

– Diksi kata “de la grande dame” yang berarti “sang putri agung”.

– Dan terakhir yang menjadi kunci dari seluruh puzzle-puzzle tersebut adalah spesies “ular kobra” yang menjadi hewan reservoir penyebab wabah virus corona itu sendiri, yang ternyata bukan berasal dari Kota Wuhan, melainkan berasal dari wilayah Asia Tenggara dan China bagian selatan.

Sekarang, mari kita rangkaikan seluruh puzzle-puzzle tersebut dan temukan benang merahnya…

Dan saya akan memulainya dengan diksi kata “sang par pris damné sans crime” yang berarti “darah-darah yang diambil tanpa dosa” dimana makna kalimat ini merujuk kepada darah-darah hewan-hewan liar yang seharusnya tidak untuk dikonsumsi oleh manusia namun disembelih untuk dijadikan konsumsi sehari-hari bagi mayoritas masyarakat China hanya demi alasan budaya, ekonomi dan politik semata.

Dan saya akan mengkhususkannya pada hewan “kelelawar” yang merupakan hewan yang tidak lazim untuk dikonsumsi oleh manusia, mengingat boomingnya wabah pandemi Virus Corona Wuhan berawal mula dari dugaan akibat dikonsumsinya kuliner “sup kelelawar”.

 

Mengapa saya mengkhususkan pada hewan “kelelawar”…?

Pertama, karena “kelelawar” pernah menjadi biang keladi penyebar virus corona SARS-CoV kepada manusia pada November 2002 yang lampau.

Kedua, karena ada dalil hadits yang melarang untuk membunuh “kelelawar” apalagi mengkonsumsinya sebagai makanan.

Berikut dalil haditsnya,

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbih. Dan janganlah kalian membunuh kelelawar, karena ketika Baitul Maqdis dibakar, kelelawar itu berdoa kepada Tuhan: Wahai Rabb, berikanlah kekuasaan padaku atas lautan hingga aku dapat menenggelamkan mereka.”

( Kitab As-Sunan Ash-Shagir, Juz 4, Hal. 59 )

 

Redaksional hadits yang sama juga diriwayatkan dari Abdullah bin Amru sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Kitab Al-Kubraa 9:318, Kitab Ash-Shughraa 8:293 No.3907 dan Kitab Al-Ma’rifah Hal.456.

Nah perhatikan doa yang dipanjatkan oleh sang kelelawar dalam hadits di atas, bukankah sang kelelawar berdoa kepada Tuhan minta diberikan kekuasaan atas lautan? Dan sebagai Tuhan Yang Maha Mengabulkan Doa dari setiap makhluknya, tentunya doa dari sang kelelawar ini pun tidak luput dari Pengabulan-Nya.

 

Artinya apa?

Artinya ada hubung keterkaitan yang sangat erat antara kelelawar dan kekuasaan atas lautan. Doa dari sang kelelawar inilah yang kemudian menjadi “sebab musabab” turunnya pertolongan dan pembalasan dari sang penguasa Lautan dari Selatan yang dikenal dalam Kitab Injil Perjanjian Baru sebagai “Ratu dari Selatan”.

 

“Pada waktu penghakiman (pembalasan), Ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab Ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo.”

( Al-Kitab Perjanjian Baru, Matius 12:42 dan Lukas 11:31 )

 

Siapakah gerangan “Ratu dari Selatan” yang berasal dari ujung bumi yang dimaksud oleh Al-Kitab…?

Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada masyarakat Indonesia, maka hampir sebagian besar darinya akan menjawab dengan jawaban “Ratu Pantai Selatan” atau “Ratu Laut Selatan” yang selama ini dikenal oleh publik Nusantara sebagai Nyai Ratu Kidul. Nah Nyai Ratu Kidul inilah yang disebut oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dengan sebutan “La Grande Madame” yang berarti “Sang Nyonya Agung” atau “Sang Ratu Selatan”. Diksi kata “Grande” sendiri sebenarnya memiliki makna yang lain yaitu “selatan”. Inilah sebabnya dalam buku “Was Australia Charter Before 1606: Java La Grande Inscriptions” yang ditulis oleh R. Richardson disebutkan bahwa dalam Inskripsi Quabefequiefce, Inskripsi Haure de Sylla/Cap dan Inskripsi Gao terdapat duplikat sketsa peta daratan bagian Selatan Pulau Jawa yang dibuat oleh Portugis versi paling awal, dan diberi nama dengan sebutan “JAVA LA GRANDE” yang berarti “Pulau Jawa bagian Selatan”.

 

Sehingga sampai disini, akhirnya kita menjadi paham bahwa yang dimaksud dalam Al-Kitab Perjanjian Baru sebagai “Ratu dari Selatan” yang berasal dari ujung bumi, dalam bahasa Perancis sepadan maknanya dengan kata “De La Grande Madame” yang dapat dimaknai sebagai “Sang Nyonya Dari Selatan” atau “Sang Ratu Dari Selatan”.

Namun dalam kajian ini, justru Michael Le Nostradame (Nostradamus) justru menggunakan diksi kata “De La Grande Dame” dalam Sajak 4 Barisnya (Century II, Quatrain 53), yang tidak hanya bermakna “Sang Putri Agung”, namun juga dapat dimaknai sebagai “Sang Putri dari Selatan”.

Lalu siapa gerangan yang dimaksud Michael Le Nostradame (Nostradamus) sebagai “De La Grande Dame” yang dapat dimaknai sebagai “Sang Putri dari Selatan” ini?

Beberapa sumber literatur naskah-naskah Jawa Kuno seperti Babad Prambanan  yang berasal dari tahun 1855 Masehi, dan Serat Centhini menyebutkan bahwa Nyi Blorong adalah putri dari sang penguasa Laut Selatan.

Sampai disini akhirnya kita pun menjadi paham bahwa yang dimaksud Michael Le Nostradame (Nostradamus) sebagai “De La Grande Dame” yang berarti “Sang Putri dari Selatan” ternyata merujuk kepada sosok Nyi Blorong, yang merupakan Putri dari Sang Ratu dari (Laut) Selatan.

Pertanyaan selanjutnya:

“Lalu seperti apa gerangan sosok yang dipanggil dengan sebutan Nyi Blorong, Sang Putri dari (Laut) Selatan ini?”

Maka jawabnya ada dalam artikel berbahasa Belanda berjudul “Blorong of de geldgodin der Javanen” yang ditulis oleh seorang peneliti budaya berkebangsaan Belanda, J. Kreemer, sebagaimana dimuat dalam “Mededelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap” tahun 1904 Masehi, dimana dalam artikel tersebut disebutkan bahwa “Blorong, kakinya tidak terlihat, yang tampak darinya hanyalah ekor ular yang seluruhnya tertutup oleh sisik emas”.

Lebih jauh, peneliti berkebangsaan Belanda lainnya, H. A Van Hien, yang telah meneliti 95 jenis makhluk halus di Pulau Jawa, menyebutkan bahwa Nyi Blorong adalah sosok setengah wanita setengah ular yang istananya berada di Laut bagian Selatan, yang berkuasa atas makhluk-makhluk halus dan nyata dari golongan ular.

Nah sampai disini, maka kita pun akhirnya mendapatkan titik terang dari seluruh puzzle-puzzle yang diberikan oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dalam sajak 4 barisnya (Century II, Quatrain 53).

Rangkaian puzzlenya kurang lebih adalah sebagai berikut:

Sebab dari pembunuhan kelelawar yang dikonsumsi secara rutin dan terus menerus sebagai kuliner yang banyak dikonsumsi masyarakat China sehari-hari, yang dagingnya dapat diperoleh dengan mudah di Pasar Grosir Makanan Laut “Huanan Wholesale Seafood Market” di Kota Wuhan China, sementara kelelawar sendiri termasuk dalam hewan yang tidak lazim dikonsumsi oleh manusia, dan bahkan dalam hukum Islam digolongkan ke dalam jenis hewan yang dilarang untuk dibunuh atau bahkan dikonsumsi, lalu lantaran doa yang dipanjatkan oleh sang kelelawar kepada Tuhan agar dapat diberikan kekuasaan atas lautan, maka kemudian datanglah Pengabulan Tuhan atas doa tersebut dalam bentuk pembalasan atas darah-darah yang diambil tanpa dosa melalui perantara Sang Putri dari (Laut) Selatan yang datang dari ujung timur, yang dikenal masyarakat Nusantara sebagai Nyi Blorong, yang berkuasa atas seluruh makhluk halus dan nyata dari spesies ular laut maupun darat. Inilah sebabnya mengapa “ular kobra” yang spesiesnya banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara dan China bagian selatan kemudian menjadi hewan reservoir penyebab wabah pandemi virus patogen Novel CoronaVirus” (2019-nCoV). Dan tentunya semua ini terjadi hanya atas Izin Allah semata sebagai Sang Pembuat Skenario Akbar kehidupan di alam semesta dari awal tercipta hingga akhir penciptaan. Dan hal inilah yang diisyaratkan oleh Michael Le Nostradame (Nostradamus) dalam sajak 4 barisnya khususnya pada Bagian Century II, Quatrain 53, dan isyarat ini ternyata juga berkesesuaian dengan apa yang dinubuatkan dalam Kitab Injil Perjanjian Baru, Bab Matias 12:42 dan Lukas 11:31.

Dari kajian diatas, mungkin bagi kaum muslim/muslimah diharapkan agar sering berdzikir, dan melafalkan ayat ke 9 dibawah ini;

“Wamayyatawakkal alallaahi fahuwa hasbuhuu innallaaha balighu amrihi qad ja-alallaahu likulli syaiin qadraan” 

Apabila dibaca akan menjadi tangkal yang ampuh dan jika ayatnya ditulis pada kulit kijang atau harimau kemudian dimasukkan dalam potongan bambu atau tabung lalu ditutup dan ditanam pada tengah kampung, desa atau kota, maka seluruh penduduk akan selamat dari penyakit menular. Metoderitual ini mungkin saja jawaban atau dapat juga dijadikan alternatif ditengah hingar bingarnya wabah penyakit menular yang disebabkan virus virus berbahaya yang belum diketahui identitasnya bahkan virus virus berbahaya yang sudah diketahui identitasnya seperti Flu burung,flu babi flu flu lainnya.

Demikian kiranya kajian ini dibuat untuk memberikan sudut pandang yang sedikit berbeda dibalik maraknya tulisan dan narasi yang mengiringi boomingnya Wabah Pandemi Novel Coronavirus 2019-nCoV di Kota Wuhan, China. Semoga bermanfaat.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *