23 April 2021
  • 23 April 2021
Breaking News
  • Home
  • Redaksi
  • 2020: Minus 2,07%, Pemerintah: ada Sinyal Positif Pemulihan Ekonomi 2021

2020: Minus 2,07%, Pemerintah: ada Sinyal Positif Pemulihan Ekonomi 2021

By on 6 February 2021 0 60 Views

Ket gbr: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko Perekonomian)

ROC — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai terdapat sinyal positif pemulihan ekonomi nasional meskipun pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi 2,07 persen. Itu dilihat dari pertumbuhan ekonomi dari antar kuartal pada 2020 yang kontraksinya semakin mengecil.

“Tentu ini terus diperhatikan dan perbaikan ini tidak lepas dari intervensi yang dilakukan pemerintah. Dan Konsumsi pemerintah mencapai 1,76 persen (yoy),” jelas Airlangga dalam konferensi pers online, Jumat (5/2).

Airlangga menambahkan realisasi Program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) sebesar Rp 579,78 triliun, sedangkan realisasi APBN mencapai 94,6 persen. Menurutnya, pencapaian tersebut telah meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan konsumsi. Hal ini mengakibatkan konsumsi RT hanya terkontraksi sebesar 3,61 persen dibandingkan 2019.

Di saat yang sama, lanjut Airlangga, produsen telah merespon perbaikan permintaan domestik dengan meningkatkan investasi, sehingga Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) triwulan keempat hanya terkontraksi sebesar 6,15 persen, lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya -6,48 persen.

Ket gbr: Ekonomi Indonesia Triwulan 4, 2020. (Grafis: BPS).

Ket gbr: Ekonomi Indonesia Triwulan 4, 2020. (Grafis: BPS).

“Berbagai sektor usaha mulai mengalami perbaikan kinerja akibat membaiknya permintaan domestik. Di saat yang sama, optimisme pemulihan permintaan global juga mendorong peningkatan sektor usaha dalam negeri, seperti industri pengolahan dan pertanian,” imbuhnya.

Airlangga memperkirakan momentum pemulihan ekonomi akan terus berlanjut pada 2021 sehingga ekonomi Indonesia akan kembali tumbuh di kisaran 4,5 persen sampai dengan 5,5 persen yang didukung peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 2,07 persen sepanjang 2020 dibandingkan 2019. Dari sisi produksi, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi di sektor transportasi dan pergudangan. Sedangkan dari sisi konsumsi hampir semua komponen terkontraksi, dengan ekspor barang dan jasa menjadi komponen yang terkontraksi paling dalam.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan keempat 2020 dibandingkan triwulan ketiga 2020 mengalami kontraksi 0,42 persen. Sedangkan triwulan keempat 2020 dibandingkan triwulan keempat 2019 terkontraksi 2,19 persen.

Red

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *