4 July 2020
  • 4 July 2020
Breaking News

Taqwa Sebagai Bekal Hidup dan Solusi Segala Masalah

By on 5 June 2020 0 52 Views

Oleh Mayjen TNI (P) Dr. Ir. H. Suharno, M.M

 

Jakarta, ROC – Kata taqwa teramat sangat akrab terdengar oleh kita semua. Taqwa adalah bekal hidup paling utama. Namun apakah kita sendiri mengenal arti dari taqwa tersebut? Bahkan ada beberapa orang memandang remeh perkara ini. Pasal, taqwa berfungsi sebagai bekal hidup yang paling esensial dan substansial.

Lebih-lebih, bagi seorang pemimpin yang sedang memikul amanah dan tanggung jawab, bekal ketaqwaan tentunya sangat diperlukan.

Tidaklah mustahil, seorang pemimpin, apa pun posisi dan levelnya akan mampu menunaikan tugas-tugasnya dengan baik, menemukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya serta dapat mencapai tujuan kolektifnya, apabila pemimpin tersebut membekali dirinya dengan ketaqwaan kepada Allah.

Ketika Abu Dzarr Al-Ghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan paling pertama dan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah taqwa. Seraya bersabda: “Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah engkau kepada Allah karena taqwa itu adalah pokok dari segala perkara.” [Nasr bin Muhammad bin Ibrahim, Kitab Tanbih al-Ghofilin li Abi Laits As-Samarkindi]

Secara lughah (bahasa), taqwa berarti: takut atau mencegah dari sesuatu yang dibenci dan dilarang. Sedangkan menurut istilah, terdapat pelbagai pengertian mengenai taqwa. Ibn Abbas mendefinisikan, taqwa adalah takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya. [tafsir Ibn Katsir, hal. 71]

Berikut ini ayat ayat yang menerangkan tentang taqwa;

Wa mayyattaqillaaha yaj’allahuu makhrojaa, wayarzuqhu min haitsu laa yahtasib. Wa mayyatawakkal alallaahi fahuwa hasbuhu; Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukkan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, Niscaya Allah akan mencukupkannya (keperluannya)”. (QS. Ath Thalaaq: 2-3).

“… Wa may yataqillaaha yaj’allahuu min amrihii yusraa; Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya”. (QS. Ath Thalaaq: 4).

“.. Wa may yattaqillaaha yukaffir ‘anhu sayya-aatihii wa yu’dzhim lahuu ajraa; Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (QS. Ath Thalaaq:5).

“… Walillaahisy-syafaa’atu jamii’an. Lahuu mulkus-samaawaati wal-ardh, wa-ilaihi turja’uun; Pertolongan itu hanya milik Allah. Semuanya Dia memiliki kerajaan di langit dan di bumi. Kemudian kepada-Nya kamu di kembali.” (QS. Az Zumar: 44).

“Innamaa amruhuu idzaa arooda syai-an ay-yaquula lahuu kun fayakuun. Fasubhaanalladzii biyadihii malakuutu kulli syai-in wa-ilaihi turja’uun; Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya “Jadilah!”. maka jadilah sesuatu itu. Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan segala kepada-Nya kamu dikembalikan”. (QS. Yasin: 82-82).

“Qul man dzalladzii ya’shimukum minallaahi in arooda bikum suu-an aw arooda bikum rohmah. Walaa yajiduuna dunillahi waliyyu-walaa nashiiroo; Katakanlah,; Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (ketentuan) Allah.Jika Dia menghendaki bencana atasmu menghendaki rahmat untuk dirimu?” Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al-Ahzab: 17).

“Maa yaftahillaahu linnaasimir rohmatin falaa mumsika lahaa, wamaa yumsik falaa mursila lahuu mim ba’dih. Wa huwal ‘azizul hakiim. Yaa ayyuhan-naasudz-kuruu ni’matallaahi ‘alaikum. Hal min khooliqin ghoirullaahi yarzuqukum-minas-samaa-i wal ardh. Laa-ilaaha illaa hu. Fa-annaa yu-fakuun; Tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang di tahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepasnya setalah itu. Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai manusia ingatlah akan nikmat Allah kepada mu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; Maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Faathir: 2-3).

“Yaa-ayyuhal ladziina damanuu tuubuu ilallahi taubatan nashuuha. Asaa rabbukum ay yukaffira ‘ankum sayyi aa-tikum wa yudkhilakum jannaatin tajrii min tahtihal anhaar. Yauma laa yukhzillaahun nabiyya wal ladziina aamanuu ma’ahuu. Nuuruhum yas’aa baina aydiihim wa bi aymaanihim. Yaquuluuna rabanaa atmim lanaa nuuranaa waghfirlanaa. Innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir;  Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni murninya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan kesalahan mu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengetawakan Nabi danorang-orangyang berimanbersama dengannya; Sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata. “Ya Tuhan kami sempurnakanlah untuk kami, cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At Tahriim: 8).

Walhasil, taqwa adalah bekal hidup paling berharga dalam diri seorang muslim. Tanpanya hidup menjadi tidak bermakna dan justru penuh kegelisahan.

Sekali lagi saya tekankan, jika masyarakat Indonesia bertaqwa, bertawakal, beriman, niscaya ditengah pandemic corona saat ini, kita akan diberikan jalan keluar, baik dari berkurangnya atau bahkan hilangnya virus corona di Indonesia, maupun dari keterpurukan ekonomi global saat ini, sehingga niscaya Indonesia akan memimpin dunia di segala bidang dan menjadi negara adi daya.

Lalu, para pemimpin yang tidak amanah dan memikirkan kepentingan pribadi agar dibukakan pintu hatinya untuk bertaubat, karena jika tidak bertaubat, niscaya pintu neraka terbuka lebar baginya. Naudzubillahimindzalik…

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita, menyelamatkan kita dan menyelamatkan bangsa ini.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *